Makam Sultan Hurudji


Mengintip Bangunan Makam Sultan Hurudji di Dalam Masjid

MAKAM raja pertama Boalemo, Sultan Hurudji merupakan makam tua yang sudah hadir sejak zaman kolonial Belanda.

Makam ini terletak di Desa Modelomo Tilamuta atau tepat berada di tepi jalan ketika hendak menuju Pelabuhan Perikanan. Tak ada perhatian pemerintah, karena posisi makam bedada di dalam mesjid.



Nama Sultan Hurudji sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Boalemo. Apalagi makam raja pertama Boalemo dengan nama lengkap Raja Hurudji Bin Idrus Andi Mappanyuki berada di dalam mesjid megah. Siapun yang datang ke lokasi makam, pasti kaget dengan kemegahan yang ada.

Namun akan lebih kaget lagi ketika mendengar penuturan penjaga makam tersebut, karena di balik kemegahan, justru perhatian pemerintah sangat minim. Ini seperti diakui penjaga makam, Djefri Abubakar ketika wartawan Gootntalo Post mencoba mengorek keterangan.



Di depan mesjid tertiulis Makam Raja Hurudji Bin Idrus Andi Mappanyuki (1604-1686) Pembuka/Pendiri Wilayah Boalemo, Tilamoeta-Gorontalo "Olongia Lolipu". Dilihat dari tulisan dan jenis huruf yang ada, ini sudah ada sejak dulu dan jika dibanding dengan kondisi mesjid, nampaknya ada perbedaan.

Djefri Abubakar yang tak lain penjaga makam tersebut masih merupakan kekturunan Sultan Hurudji. Konon menurut sejarah asal usulnya, pada abad 16 silam, ada sebuah pulau ditemukan rombongan pedagang ketika berlabuhnya perahu besar yang dikenal Jarangga.

Rombongan ini dinahkodai Idrus Andi Is Mapanyuki yang tidak lain orang tua Raja Hurudji yang sempat mengarungi perdagangan menuju Kepulauan Ternate. Oleh mereka kawasan pantai ini ditemukan dengan keberadaan daratan subur dipenuhi jenis tanaman dan pepohonan jeruk suanggi.

Tumbuhan ini hidup dengan lebat dan buah yang melimpah. Sehingganya oleh Idrus Andi Is Mapanyuki yang merupakan salah seorang putra Bone, Sulawasi Selatan itu menyebutnya sebagai buah jeruk.

Sementara itu, dalam arus perdagangan ikut pula sang isterinya, Zaenab Sultan Babullah bersama empat orang putranya, masing-masing Hurudji yang lahir 1578 M, Mauhe lahir sekitar 1579 M, Humongio lahir 1580 M dan Hutudji lahir 1582 M.

Karena dalam lintasan perdagangan oleh rombongan ini sempat menuai hambatan badai angin dan ombak yang kencang. Maka mereka terpaksa terdampar di sebuah pantai pada daratan pulau yang dikenal subur. Namun karena rombongan ini sudah cukup lama bermukim dan memenuhi kehidupannya di wilayah pantai tersebut, oleh Andi Is Mapanyuki kemudian menyebutnya daratan itu dengan nama Boalemo sejak abad 16.

Asal mula kata ini diambil dari kata si Bone dengan alasan wilayah ini ditemukan oleh orang-orang Bugis Bone. Sementara dalam bahasa Bugis sendiri, kata Boalemo dibagi dalam dua kata, yakni Boa yang artinya buah dan Lemo berarti Lemon.

Setelah daratan pantai yang ditumbuhi pepohonan dan buah jeruk sudah dikanal wilayah Boalemo, maka saat itu pula mulai ramai dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai macam suku bangsa. Meski demikian yang paling dominan adalah suku Bugis dan Ternate.

Seiring dengan wakut bertambahnya para penduduk, maka dibentuklah sebuah kerajaan Boalemo. Ini dapat ditandai lewat peringatan upacara agama seperti lebaran Islam dan upacara serah terima jabatan bupati, camat (Waleya Lo Lipu) yang berpusat di Tilamuta.

Demikian halnya dengan kebiasaan penyambutan tamu (Motombulu Lo Lipu) ikut menggelar suksesi adat. Menariknya suksesi adat ini dilaksanakan dengan cara mengantar bupati bersama camat yang baru saja dilantik dan diarak dari rumah kediaman bupati dan camat (Yiladiya) menuju Masjid Jami sambil diselingi musik berupa Tambur (Towahu) atau oleh masyarakat Gorontalo dikenal dengan Hantalo, dihadiri para pemangku adat (Baate) dan prajurit (Apita Lau).

"Prosesi adat ini konon ikut digelar saat pengangkatan Sultan Hurudji ketika dinobatkan menjadi raja pertama kali di Boalemo pada 1607 M yakni abad ke 16 silam," tandas Djefri. Selama kepemerintahan Sultan Hurudji ini, wilayah Boalemo semakin maju dan terus mengadakan kerja sama dengan sejumlah wilayah seperti Ternate dan daerah lainnya.

Bahkan semasa hudupnya raja pertama kali di Boalemo ini sempat tiga kali menunaikan ibadah haji bersama sang isteri dan membawa anak yang pertama kali bernama I Djawa dengan menggunakan perahu Jarangga hasil buatan empat bersaudara.

"Namun pada akhirnya Raja Hurudji beserta isterinya Tawila wafat pada 1686 M yang saat itu bertepatan hari Jumat secara bersamaan dan hanya dibedakan oleh waktu. Keduanya dimakamkan di atas sebuah bukit kecil yang kini nampak megah itu," kata Djefri Abubakar.

Keberadaan makam ini, pada 1998-1999, yakni saat itu adanya kunjungan Prof. DR. H H A Nusi yang saat itu menjabat Wakil Gubernur Sulawesi Utara bidang ekonomi pembangunan sekaligus sebagai pejabat Bupati Kabupaten Gorontalo bersama Muspida Kabupaten Gorontalo dan beberapa pejabat teras pemerintah Provinsi Sulut mengadakan jiarah ke makam Sultan Hurudji yang dirangkaikan dengan peninjauan dari dekat pembentukan Kabupaten Boalemo yang beribukota Tilamuta.

Maka oleh rombongan sempat menyerahkan bantuan seadanya oleh Gubernur Sulut E E Mangindaan guna perbaikan makam Sultan Hurudji. Selanjutnya beberapa tahun kemudian bangunan makam direnovasi kembali pejabat Gubernur Gorontalo H Tursandi Alwi melalui Dinas Perhubungan dan Parpostel Provinsi Gorontalo pada proyek APBD Provinsi Gorontalo tahun anggaran 2001-2002 lalu.

"Namun hingga saat ini makam raja pertama kali Boalemo ini belum mendapat perhatian serius dari pihak pemerintah. Baik itu Pemerintah Provinsi maupun pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boalemo. Hanya saja oleh pihak keluarga sudah dipugar, dimana ikut dibangun sebuah masjid yang didalamnya makam Sultan Hurudji," pungkasnya seraya menambahkan sejarah kerajaan Boalemo ini pula sempat dijadikan dasar oleh pemerintah ketika menggagas terbentuknya Kabupaten Boalemo yang pisah dari Kabupaten Gorontalo.

Sebenarnya, makam ini tidak berada dalam mesjid jika melihat sejumlah arsip akhir 2006 lalu. Artinya, mesjid sengaja dibangun di lokasi makam agar nampak bahwa makam tersebut berada dalam mesjid. Ini juga bisa dijadikan bukti kalau makam tersebut mendapat perhatian.

Dikutip dari arkeologi.web.id



Artikel Terkait:

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih Anda telah menyimak Artikel ini.
Artikel ini kami kutip dari berbagai sumber,sebaiknya Anda simak juga sumbernya melalui link yang disediakan.
Apabila berkenan silahkan berikan komentar.