Kesenian Betawi

Sejak abad ke 5, tanah Jakarta, khususnya kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, telah menjadi kawasan internasional. Saat itu Pelabuhan Sunda Kelapa sudah terjadi interaksi antar etnik maupun bangsa. Makanya tidak mengherankan bila keragaman budaya Betawi tidak bisa lepas dari pengaruh budaya lain. Sejumlah kesenian yang dikenal sebagai kesenian asli Betawi, sebenarnya merupakan saksi betapa sejak beratus-ratus tahun lalu di tanah Betawi telah terjadi akulturasi budaya dengan berbagai suku bangsa. Apa sajakah kesenian itu? Nyok, kite simak!

Ondel-ondel 
Sekilas ondel-ondel mirip dengan ogoh-ogoh dari Bali. Ondel-ondel dipengaruhi oleh budaya Hindu. Seperti kita ketahui bersama dahulu tanah Betawi pernah dikuasai oleh kerajaan Hindu Tarumanegara. Pada saat itu pertanian mulai dikenal di tanah Betawi.

Teluk Triton.

Teluk Triton Kaimana, Surga Bawah Laut Papua Teluk Triton.

Propinsi Papua Barat di negara kita tercinta Indonesia, sudah sangat terkenal di mancanegara akan keindahan panorama bawah lautnya. Selain Kepulauan Raja Ampat di Papua yang memiliki keanekaragaman biota laut terbanyak di Indonesia, ada satu lagi objek wisata bawah laut yang tidak kalah indahnya, namanya Teluk Triton di Kabupaten Kaimana, Propinsi Papua Barat.

Kebun Teh Wonosari.

Kebun teh Wonosari yang berada di desa Toyomarto kecamatan Singosari, kabupaten Malang telah dibuka sejak tahun 1875 oleh NV. Cultuur Maatschappy. Pada awalnya ditanami teh dan kina selama 32 tahun. Namun ketika Jepang menguasai Indonesia pada tahun 1942-1945, sebagian teh diganti tanaman pangan. Pada tahun 1950 yang ditandai pada masa nasionalisasi, maka perusahaan milik penjajah diambil alih oleh pemerintah. Sehingga tanaman kina secara keseluruhan diganti dengan tanaman teh. Kemudian pada tahun 1996 resmi dikelola oleh PTP Nusantara XII (Persero) kantor pusat di Jl. Rajawali no. 44 Surabaya.

Makam Keramat di Pulau Damar

Di Pulau Damar, Kabupaten Kepulauan Seribu ada sebuah makam yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar. Makam tersebut konon adalah makam seorang perempuan Banten yang bernama Fatimah. Oleh Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya yang berjudul “Jalan Raya Pos, Jalan Deandels”, Fatimah digambarkan sebagai seorang gadis keturunan Arab yang dijadikan mata-mata Belanda di Kerajaan Banten sekitar abad ke-17.
Pernyataan Pramoedya di atas mungkin didasari oleh cerita yang berkembang pada masyarakat Pulau Damar mengenai sosok Fatimah yang merupakan pelarian dari Banten. Dikisahkan pada sekitar abad ke-17 Kerajaan Banten sedang memperluas pengaruh kekuasaannya hingga ke seluruh Jawa Barat. Khawatir kalau kerajaan ini akan bekerjasama dengan Kerajaan Mataram, maka pihak Belanda yang berkedudukan di Batavia membuat siasat licik untuk menghancurkannya. Mereka mengirimkan seorang gadis berdarah Arab bernama Fatimah untuk dipersunting oleh raja Banten yang bernama Sultan Arifin. Selain dinikahkan, gadis Arab ini juga diserahi misi khusus dengan tujuan untuk memecah belah Kerajaan Banten.

Wisata Pulau Marsegu.

Hutan Wisata Pulau Marsegu terletak di bagian barat Pulau Seram (Nusa Ina / Pulau Ibu) yang terkenal memiliki Taman Nasional Manusela.
Secara Administratif pulau Marsegu termasuk dalam Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Pulau ini diberikan nama oleh masyarakat sebagai “Pulau Marsegu” karena mempunyai satwa Kelelawar yang begitu banyak. Kata Marsegu berasal dari bahasa daerah yang berarti Kelelawar. Dalam pikiran pasti terlintas seperti tokoh menyeramkan yaitu “Drakula” penghisap darah, manusia yang menjelma menjadi kelelawar.