RSPAD Gatot Subroto.

Istana Weltevreden Jadi RSPAD Gatot Subroto

Sampai saat ini, tiap hari ratusan orang lebih mengunjungi tempat ini untuk berobat karena gedung yang indah dan megah serta memiliki pekarangan luas ini adalah Istana Weltevreden (sangat puas), yang kini menjadi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto di Senen Raya, Jakarta Pusat. Istana ini merupakan salah satu dari sejumlah kediaman yang dimiliki oleh Gubernur Jenderal Petrus Abraham Van der Parra (1714-1775). Dia adalah gubernur jenderal VOC yang hidup mewah dan foya-foya.

Gubernur jenderal ini menikmati gedung ini sebagai tempat kesenangan kepada keluarganya. Pekarangan rumah mewah tersebut kini menjadi bagian dari Jalan Senen Raya. Pada abad ke-19, Belanda membongkar rumah mewah ini dan menjadikannya sebagai rumah sakit militer. Pada tahun 1950-an namanya diubah menjadi RSPAD Gatot Subroto mengabadikan nama Wakil Kepala Staf AD setelah ia meninggal dunia.

Adanya gedung megah ini tidak dapat dipisahkan ketika Belanda pada abad ke-19 memindahkan pusat pemerintahan dari kota tua di Pasar Ikan ke daerah selatan. Istana ini sendiri telah dihancurkan. Namun, sampai abad ke-20, Belanda masih menyebut daerah ini Weltevreden. Dalam foto, pelukis Johannes Rach (1720-1783), sekelompok orang di alun-alun di depan rumah besar itu pada waktu pagi. Audiensi ini dilakukan di lantai dasar sambil membacakan petisi kepada gubernur jenderal. Dia dapat dikenali dengan bentuk badannya yang gemuk. Dia berada di tengah-tengah kerumunan orang yang memakai rambut palsu dengan buntut diikat-kebiasaan kala itu. Di sekitar tempat itu, beberapa wanita yang menggunakan gaya pakaian abad ke-18 tengah lewat dan sang pelukis menggambarkan adegan ini dalam beberapa gerakan untuk memperoleh kesan meyakinkan tentang politik Batavia.

Gubernur Jenderal Van der Parra memiliki sebuah gedung megah lainnya di Jacatraweg (kini Jalan Pangeran Jayakarta). Pada abad ke-18, jalan ini merupakan kawasan tempat tinggal untuk kaum elite (kelas atas VOC). Seperti juga di Senen, di Jalan Pangeran Jayakarta tidak terlihat bekas-bekas kejayaan masa lalu yang disenangi oleh orang Belanda dan Erropa.

Di Jalan Dr Abdurahman Saleh (dulu Hospitaalweg), terdapat gedung umtuk para pelajar sekolah dokter Jawa (gedung Stavia). Di gedung inilah pada 20 Mei 1908 para siswanya melahirkan hari Kebangkitan Nasional. Gedung ini letaknya berdekatan dengan RSPAD Gatot Subroto, sedangkan di belakang Hotel Borobudur di Lapangan Banteng sampai tahun 1940-an terdapat sebuah tangsi militer Belanda yang dikenal dengan Batalion 10.

Dikutip dari :republika.co.id



Artikel Terkait: