Pelabuhan Panarukan.
Sekelumit Sejarah Pelabuhan Internasional Panarukan, Jawa Timur

Panarukan saat ini merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Situbondo Propinsi Jawa Timur. Secara geografis Kabupaten Situbondo terletak di Pantai utara Jawa Timur bagian timur dengan posisi diantara 7? 35' - 7? 44'LS dan 113? 30' - 114? 42'BT.
Letak Kabupaten Situbondo, di sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura, sebelah Timur berbatasan dengan Selat Bali, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi, serta sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo. Luas wilayah Kabupaten Situbondo adalah 1.638,50 Km?. Hampir keseluruhan terletak di pesisir pantai dari Barat ke Timur, bentuknya memanjang kurang lebih 140 km.
Panarukan dahulu merupakan bagian dari Keresidenan Besuki. Pada mulanya nama Kabupaten Situbondo adalah "Kabupaten Panarukan" dengan ibukota Situbondo. Pada masa pemerintahan Belanda oleh Gubernur Jendral Daendels (? tahun 1808-1811 M) membangun jalan dengan kerja paksa sepanjang pantai utara Pulau Jawa yang dikenal dengan sebutan "Jalan Anyer - Panarukan" atau lebih dikenal lagi dengan "Jalan Daendels" atau juga "Jalan Pos".
Panarukan berkembang dengan pesat karena surplus wilayah belakang yang merupakan penghasil ekspor, seperti tembakau, kopi dan tebu. Dengan berkembangnya Panarukan yang begitu pesat, sehingga pada akhirnya pusat pemerintahan berpindah ke Kabupaten Panarukan dengan Raden Tumenggung Aryo Soeryo Amijoyo (1858 - 1872) sebagai Bupati Pertama.
Pada masa pemerintahan Bupati Achmad Tahir (? tahun 1972 M) Kabupaten Panarukan kemudian berganti nama menjadi Kabupaten Situbondo, dengan ibukota tetap di Situbondo, berdasarkan peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28/1972 tentang Perubahan Nama dan Pemindahan Tempat Kedudukan pemerintah daerah.
Kawasan pelabuhan Panarukan berada di Pedukuhan Pesisir Kilensari Kecamatan Panarukan. Jarak dari pusat kota Situbondo ke lokasi pelabuhan Panarukan kurang lebih 8 km ke arah barat. Lokasi pelabuhan terletak di pinggir laut dan dekat dengan jalan raya sehinggga dapat dijangkau dengan mudah.
Sejak abad XVI Panarukan sudah berfungsi sebagai salah satu kota pelabuhan terkemuka di Jawa Timur. Fungsi pelabuhan Panarukan semakin tampak yakni pada sekitar abad XIX tatkala daerah Jember dan Bondowoso dijadikan sebagai sentra area penanaman cash crop production, khususnya tanaman tembakau, kopi, tebu dan produk-produk perkebunan yang lain. Di pelabuhan Panarukan inilah tempat untuk menimbun, menyimpan dan mengangkut hasil perkebunan ke luar negeri.
Pelabuhan Panarukan didirikan oleh salah seorang Ondemer terkemuka di kawasan Besuki yakni George Birnie pada tahun 1890-an dengan nama Maactschappij Panaroekan. Pelabuhan Panarukan ini pada saat sekarang kondisinya memprihatinkan, karena fungsi pelabuhan dialihkan ke Probolinggo dan Banyuwangi, sehingga banyak tinggalan arkeologis di pelabuhan Panarukan yang dibongkar seperti gudang induk, kantor Djakarta Llyod dan gudang-gudang yang lainnya. Bangunan yang tersisa berupa dermaga kuno, gudang-gudang dan mercusuar. Pada masa dahulu terdapat "tanggang lanjang". Yakni tempat rel trem atau kereta kecil yang menjorok ke laut. Fungsi rel trem ini untuk mengangkut barang dari gudang penyimpanan ke perahu-perahu sebelum diangkut ke luar negeri oleh kapal besar. Bangunan ini panjangnya mencapai 550 M dan lebar 11 M. Bangunan ini terbuat dari bahan beton untuk bagian bawah, sedangkan bagian atas terbuat dari kayu. Pada bagian tengah terdapat rel besi tempat jalan trem pangangkut barang.

Di pelabuhan Panarukan juga dibangun beberapa galangan atau dok-dok terapung, yaitu tempat untuk memperbaiki kapal. Untuk memuat dan membongkar muatan kapal-kapal merapat ke kade, yaitu suatu pelataran luas, lengkap dengan gudang, alat-alat derek, bahkan rel-rel untuk lori.
Pelabuhan Panarukan mempunyai beberapa gudang, dibagi menjadi dua jenis. Pertama, gudang lini 1 terdiri dari (1) Gudang A ; 1.105 m2, (2) Gudang B ; 867 m2, (3) Gudang C : 2.494 m2, (4) Gudang D : 2.098 m2, (5) Gudang E ; 2.400 m2, (6) Gudang F ; 400 m2, (7) Gudang G ; 600 m2, (8) Gudang I ; 2.700 m2, (9) Gudang K ; 2.000 m2, (10) Gudang L ; 450 m2, (11) Gudang M ; 410 m2, (12) Gudang N ; 2.200 m2, (13) Gudang O ; 6.000 m2 (Anonim, 1981: 50).
Di Panarukan telah dibangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) pada tahun 1808 oleh Gebernur Jenderal Herman Willem Daendels Jalan Raya Pos yang berawal dari Anyer dan berakhir di Panarukan. Pada awalnya dibuat dengan tujuan untuk memperlancar usaha militer Belanda dalam peperangan menaklukkan daerah Blambangan (Banyuwangi). Pada perkembangan selanjutnya jalan yang memanjang dari arah barat ke timur di pesisir utara sangat bermanfaat bagi kelancaran lalu lintas pos, ekonomi dan transportasi.
Selain keberadaan jaringan jalan, keberadaan jalur kereta api di Panarukan turut memperlancar distribusi barang. Stasiun Kereta Api di Panarukan dibangun oleh Belanda sekitar tahun 1890-an. Bangunan ini pada saat sekarang masih utuh, tetapi pada tahun 2003 sudah tidak difungsikan lagi. Struktur bangunan Stasiun Kereta Api Panarukan terdiri atas tiga bagian pertama adalah tempat administrasi, bagian kedua merupakan ruang tunggu penumpang, sedangkan bagian ketiga merupakan tempat pemberangkatan dan pemberhentian kereta api. Jalur kereta api ini merupakan alat transportasi penting bagi pelabuhan Panarukan untuk mengangkut tembakau dari Jember dan Bondowoso ke pelabuhan di Panarukan.
Pada masa pendudukan Kolonial Belanda, di wilayah Kabupaten Panarukan terdapat 12 buah pabrik gula, yaitu Pabrik Gula (PG) De Maas, Assembagoes, Pandjie, Olean, Boedoean, Soekowidi, Prajekan, Tangarang, Bedadoeng, Semboro dan Goenoeng Sarie. Pada saat ini di wilayah Kabupaten Situbondo hanya terdapat enam pabrik gula, yaitu PG De Maas, Assembagoes, Pandjie, Olean, Boedoean dan Wringin Anom, yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Situbondo. Dari keenam pabrik gula tersebut empat pabrik gula masih terlihat wujudnya dan masih berproduksi hingga saat ini pabrik gula Assembagus, Olean, Pandjie, Wringin Anom, satu pabrik gula masih berdiri tetapi tidak berproduksi lagi adalah PG Demaas dan satu pabrik gula yang lain adalah PG Boedoean sudah tidak tampak lagi keberadaannya. Keseluruhan pabrik-pabrik tersebut merupakan produsen gula terbesar di Jawa Timur.
Di Panarukan terdapat Benteng VOC yang berada di wilayah Dusun Kilensari Timur, Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan. Tinggalan arkeologis yang berupa bekas benteng ini berada di tepi barat Sungai Sampeyan, sekitar 500 m dari muara Sungai Sampeyan sehingga letaknya sangat strategis karena langsung berhadapan dengan laut Jawa. Selain itu benteng VOC ini juga melindungi pelabuhan Panarukan dari wilayah timur, yaitu dari wilayah sungai Sampeyan. Jarak dari pusat kota Situbondo ke lokasi benteng ini kurang lebih 8,5 Km ke arah barat. Untuk menuju lokasi benteng hanya bisa dijangkau dengan kendaraan sepeda motor. Saat ini lingkungan benteng berada di areal pemakaman penduduk dan lahan pertanian masyarakat.

Menurut masyarakat di sekitar Tugu Portugis ini banyak ditemukan bekas kerang-kerang besar yang menunjukan di sekitar tugu ini dulunya merupakan laut yang mengalami proses sedimentasi demikian cepat karena terjadi pendangkalan di Sungai Sampeyan. Oleh karenanya bisa jadi tinggalan Tugu Portugis ini hanya merupakan sebagaian kecil (paling atas dari bangunan). Melihat bangunannya, tugu ini berfungsi sebagai menara petunjuk bagi pelaut-pelaut, bahwa di tempat ini sebagai tempat pelabuhan.
Beberapa peninggalan arkeologis yang ada sekarang ini, menunjukkan bahwa Panarukan merupakan pelabuhan yang strategis dan kuat. Adanya berbagai fasilitas pendukung menunjukkan bahwa pelabuhan Panarukan sangat berkembang sebagai pelabuhan dagang, dengan adanya surplus dari wilayah belakang yang mendukung pelabuhan Panarukan berkembang. Dengan adanya fasilitas pendukung mengakibatkan pelabuhan Panarukan pada abad XIX dapat berfungsi maksimal, yaitu sebagai pelabuhan perdagangan dan ekspor. Selain itu keletakan pelabuhan yang tepat di tepi jalur pelayaran perdagangan melalui Laut Jawa dan Selat Madura yang dilalui pedagang-pedagang yang menuju ke Maluku sangat mendukung perkembangan pelabuhan untuk menjadi pelabuhan internasional.
Pelabuhan Panarukan letaknya sangat strategis, yaitu pertama terletak di teluk yang merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung suatu pelayaran. Kedua pelabuhan Panarukan terletak di jalur pelayaran dari barat menuju ke Maluku di bagian timur dan sebaliknya dari timur ke barat. Ketiga, adanya persediaan air bersih yang dibutuhkan kapal-kapal untuk perbekalan air minum dalam pelayaran jarak jauh. Keempat, wilayah belakang. Panarukan penghasil gula, kopi, tembakau, beras dan terbentang hutan jati yang kayunya berkualitas baik sebagai komoditi perdagangan dan bahan pembutan kapal.
Pelabuhan Panarukan erat hubungannya dengan aktivitas serta perkembangan PT. Djakarta Lloyd sub. Cab Panarukan (dahulu Panaroekan Maatscappij) yang didirikan pada tahun 1886. Maka sejak tahun pendirian tersebut pelabuhan Panarukan sudah dikenal pasaran dunia atau Eropa melalui ekspor komoditi gula, kopi, tembakau, karet dan jagung.
Untuk menunjang berlangsungnya kegiatan perdagangan maka di pelabuhan dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung. Pemerintah kolonial mempersiapkan sarana dan prasarana pelabuhan antara lain dibangunnya dermaga, alat Derek (alat pengangkut), lori, gudang-gudang pemerintah dan milik swasta, serta gudang-gudang garam. Pemerintah juga menyediakan berbagai kebutuhan kapal, akomodasi, air bersih, tempat penumpukan untuk barang-barang impor-ekspor, parkiran, menyambung rel kereta api, dan menyediakan gerbong-gerbong, menyambung pipa air, bahan bakar, kabel-kebel listrik, menyediakan tongkang-tongkang, galangan kapal, tempat timbangan umum, penginapan, rumah sakit, dan lain-lain. Untuk mendukung kelancaran administrasi pelabuhan, pemerintah membangun kantor bernama Djakarta Lyiod. Dari persiapan tersebut tampak bahwa Panarukan berfungsi sebagai pelabuhan tempat menyalurkan barang-barang ke berbagai.
Di pelabuhan Panarukan terdapat lori yang menghubungkan stasiun kereta api sampai dermaga, kira-kira sepanjang ? 1 Km. Untuk angkutan tembakau dan kopi dari Jember dan Bondowoso lebih murah dan cepat dengan jasa kereta api sampai Panarukan.
Sejak awal abad XIX pihak pemerintah kolonial menerapkan kebijakan ekonomi the system of onterprice (sistem pembangunan perusahaan atau Industri) sebagai pengganti the cultivation system (sistem pengolahan bahan). Dampak kebijakan politik ekonomi itu menyebabkan banyak berdirinya perusahaan perkebunan. Salah satu daerah yang berkembang sebagai akibat kebijakan itu ialah daerah Bondowoso dan Jember. Kedua daerah ini terletak di bagian pedalaman yang cocok untuk penanaman komoditi ekspor. Namun pada waktu itu permasalahan utama yang dihadapi oleh perusahaan perkebunan ialah sulitnya mengangkut hasil perkebunan ke luar negeri, karena kedua derah tersebut jauh dari pelabuhan. Untuk mengatasi masalah tersebut George Bernie, pemilik NV LMOD (Landbouw Matscapay Out Djember) yakni salah seorang penguasa perkebunan terbesar di daerah ini berinisiatif untuk membangun pelabuhan di Panarukan dan jalur kereta api Jember-Bondowoso-Panarukan. Gagasan untuk membangun pelabuhan Panarukan terealisasi pada tahun 1897 dan jalur kereta api Jember-Bondowoso-Panarukan yang berjarak 98 km dibuka pada tanggal 1 Oktober 1987. Untuk itu Bernie bekerjasama dengan Stoomvaart Matscapien Nederlandsch dengan mendirikan Matscapay Panaroekan. Sejak berdirinya perusahaan pelabuhan ini semua hasil perkebunan yang berasal dari Bondowoso, Jember, Banyuwangi, dan Panarukan sendiri ditimbun di gudang-gudang di sekitar pelabuhan kemudian diangkut dari pelabuhan Panarukan ke luar negeri terutama ke Bremen (Jerman) dan Rooterdam (Belanda).
Penduduk kota Panarukan dan sekitarnya bersifat heterogen. Permukiman suku-suku bangsa Nusantara maupun bangsa lain tumbuh dan telah berkembang sejak zaman dulu. Pada saat sekarang yang ada hanya perkampungan Cina, yang berada di tanjung Pecinan. Namun demikian dalam komposisi nampak sekali bahwa penduduk pribumi yang terdiri dari orang Jawa dan Madura tetap merupakan mayoritas.
Dikutip dari arkeologi.web.id