Ondel-ondel.


 Ondel-ondel khas Betawi.
Ondel-ondel adalah kesenian khas Betawi yang ada sejak zaman leluhur nenek moyang. Dahulu ondel-ondel dianggap sebagai boneka penolak bala yang dikeramatkan. Namun sekarang ondel-ondel berubah fungsi menjadi ”alat pencari uang”. Sebelumnya ondel-ondel dipakai untuk acara- acara penting seperti penyambutan tamu agung, acara sunatan, atau acara penting lainnya. ”Pengamen ondel-ondel” mencari nafkah dengan mengarak ondel-ondel dari kampung ke kampung, mereka berupa sekumpulan orang dari berbagai golongan usia mulai dari anak-anak hingga dewasa. Pengamen ondel-ondel ini biasanya orang Betawi asli. Pergeseran fungsi ondel- ondel itu sendiri akan dibahas dalam tulisan ini.

Sejarah Ondel Ondel
Jakarta memang punya daya pesona luar biasa. Betapa tidak, kedudukannya sebagai ibukota negara telah memacu perkernbangannya menjadi pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat perindustrian, dan pusat kebudayaan. Jakarta menjadi muara mengalirnya pendatang baru dari penjuru nusantara juga mancanegara. Unsur seni budaya yang beranekaragam yang dibawa serta oleh para pendatang itu menjadikan wajah Jakarta semakin memukau. Bagaikan sebuah etalase yang memampangkan keindahan, Jakarta adalah ratna manikam yang gemerlapan. lbarat pintu gerbang yang megah menjulang Jakarta telah menyerap ribuan pengunjung dari luar dan kemudian bermukim sebagai penghuni tetap.
Lebih dari empat abad lamanya arus pendatang dari luar itu terus mengalir ke Jakarta tanpa henti-hentinya. Bahkan sampai detik inipun kian hari tampak semakin deras, sehingga menambah kepadatan kota. Pada awal pertumbuhannya Jakarta dihuni oleh orang-orang Sunda, Jawa, Bali, Maluku, Melayu, dan dari beberapa daerah lainnya, di samping orang-orang Cina, Belanda, Arab, dan lain-lain, dengan sebab dan tujuan masing- masing. Mereka membawa serta adat-istiadat dan tradisi budayanya sendiri Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi antar penduduk, adalah bahasa Melayu dan bahasa Portugis Kreol, pengaruh orang-orang Portugis yang lebih dari satu abad malang melintang berniaga sambil menyebarkan kekuasaanya di Nusantara.

Di Jakarta dan sekitarnya berangsur-angsur terjadi pembauran antar suku bangsa, bahkan antar bangsa, dan lambat laun keturunannya masing- masing kehilangan ciri-ciri budaya asainya. Akhirnya sernua unsur itu luluh lebur menjadi sebuah kelompok etnis baru yang kemudian Betawi etnis baru yang kemudian dikenal dengan sebutan masyarakat Betawi.

Dari masa ke masa masyarakat Betawi terus berkembang dengan ciri-ciri budayanya yang makin lama semakin mantap sehingga mudah dibedakan dengan kelompok etnis lain. Namun bila dikaji pada permukaan wajahnya sering tampak unsur-unsur kebudayaan yang menjadi sumber asalnya.

Jadi tidaklah mustahil bila bentuk kesenian Betawi itu sering menunjukkan persarnaan dengan kesenian daerah atau kesenian bangsa lain.Bagi masyarakat Betawi sendiri segala yang tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan seni budayanya dirasakan sebagai miliknya sendiri seutuhnya, tanpa mempermasalahkan dari mana asal unsur-unsur yang telah membentuk kebudayaannya itu. Demikian pulalah sikap terhadap keseniannya sebagai salah satu unsur kebudayaan yang paling kuat mengungkapkan ciriciri ke Betawiannya, terutama pada seni pertunjukkannya..

Berbeda dengan kesenian kraton yang merupakan hasil karya para seniman di lingkungan istana dengan penuh pengabdian terhadap seni, kesenian Betawi justru tumbuh dan berkernbang di kalangan rakyat secara spontan dengan segala kesederhanaannya. Oleh karena itu kesenian Betawi dapat digolongkan sebagai kesenian rakyat.

Salah satu bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalarn pesta-pesta rakyat adalah ondel-ondel. Nampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yangsenantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa. (kotatua.blogspot.com/2007/06/sejarah-budaya-jakarta.html)

Media utama kesenian ini adalah sebuah boneka raksasa tinggi-besar. Ukurannya sekitar 2,5 meter. Nah, boneka inilah yang lazim disebut dengan ondel-ondel. Boneka ini berbahan dasar bambu. Bagian dalamnya dibuat semacam pagar atau kurungan ayam supaya mudah dipikul orang yang membawanya. Boneka ini digerakan oleh seseorang yang masuk ke dalam. Jangan pernah bayangkan wajah boneka ondel-ondel ini rupawan. Buang kesan itu jauh-jauh. Karena wajah ondel-ondel ini bisa dibilang “menyeramkan” dan absurd sekali. Matanya besar-bulat melotot. Kepalanya dilapisi ijuk atau kertas-kertas warna-warni, sebagai rambut. Jika “manggung” ondel-ondel selalu dibawa sepasang: lelaki-perempuan. Ada ciri khas ondel-ondel lelaki dan perempuan. Lelaki wajahnya berwarna merah tua sedangkan perempuan biasanya berwarna putih. Entah ada atau tidak hubungan antara pewarnaan ini dengan warna bendera kita: merah-putih. 

Berdasarkan situs whalee.wordpress.com/2008/04/14/ondel-ondel/ dikatakan bahwa

Ondel-ondel konon telah ada sebelum Islam tersebar di Jawa. Dahulu berfungsi sebagai penolak bala atau semacam azimat. Saat itu, ondel-ondel dijadikan personifikasi leluhur penjaga kampung. Tujuannya untuk mengusir roh-roh halus yang bergentayangan mengganggu manusia. Oleh karena itu tidak heran kalau wujud ondel-ondel dahulu, menyeramkan. Gambar foto dari sejarawan Rushdy Hoesein yang dilansir dari milist Historia Indonesia membuktikan hal itu. Menurut Rushdy, foto tersebut (lihat gambar) merupakan pertunjukan ondel-ondel pada tahun 1920-an. Wajah ondel-ondel lebih mirip raksasa lengkap dengan caling dan mata melotot. Ciri ondel-ondel perempuan dan lelaki pun tidak jelas (milist historia-indonesia).

Seiring perjalanan waktu, fungsinya bergeser. Rushdy mengemukakan bahwa pada masa Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta (1966-1977), ondel-ondel menjelma menjadi seni pertunjukan rakyat yang menghibur. Biasanya disajikan dalam acara hajatan rakyat Betawi, penyambutan tamu kehormatan, dan penyemarak pesta rakyat. Dibeberapa daerah di Nusantara, terdapat juga pertunjukan kesenian yang mirip ondel-ondel, seperti di Bali jenis kesenian yang mirip ondel-ondel ini disebut dengan barong landung dan di Jawa Tengah yang dikenal masyarakat sana dengan sebutan barongan buncis. Karena pada awalnya berfungsi sebagai personifikasi leluhur sebagai pelindung, maka bisa dikatakan bahwa ondel-ondel termasuk ke dalam salah satu bentuk teater tanpa tutur. “Ning-nang-ning-nung…” ondel-ondel beraksi diiringi musik yang khas. Musik pengiringnya sendiri tidak tentu. Bergantung rombongan masing-masing. Ada yang menggunakan tanjidor. Ada yang diiringi dengan pencak Betawi. Dan ada juga yang menggunakan bende, ningnong, dan rebana ketimpring.

Tehyan, Pengiring Ondel-ondel
Tak banyak orang yang mengenal alat musik tehyan. Keberadaan alat musik yang berasal dari negeri Cina Ini mulai langka. Cara bermainnya yang cukup sulit pun menyebabkan alat musik tehyarLsaat ini mulai ditinggalkan. Meski begitu, mungkin sebagian orang masih dapat menemukan tehyan yang digunakan saat pertunjukan kesenian ondel-ondel walau hanya sebagai pengisi suara saja.

Tehyan merupakan alat musik gesek berbentuk panjang dengan bagian bawah yang agak melebar. Jika diamati, alat musik ini mirip rangka manusia mulai bagian badan hingga bokong. Tangga nada dalam alat musik tchyan yang dlatonls. dalam permainannya lebih mengandalkan feeling atau perasaan. Itulah yang membuat alat musik Ini berbeda dengan alat musik lainnya.

Pengamat sejarah yangjuga pemerhati budaya Betawi dari Lembaga Kesenian Betawi (LKB). Yahya . Andi Saputra, mengungkapkan, tehyan adalah salah satu alat musik Betawi hasil perpaduan kebudayaan Tionghoa yang masih tersisa. Menurutnya, saat ini tehyan mulai Jarang dijumpai karena langkanya alat musik tehyan digunakan oleh masyarakat. Yahya menuturkan, tehyan mulai dikenal di masyarakat pribumi sejak bangsa Tionghoa datang ke Batavia pada abad ke-17. Saat itu. tehyan menjadi salah satu alat kesenian Tionghoa yang dibawa ke Batavia. Dulunya alat musik tehyan dimainkan dalam orkes Yan Kin di mana pemainnya merupakan warga keturunan Tionghoa. Yahya mengungkapkan, ada beberapa daerah, di mana permainan alat musik ini tumbuh dengan subur. Orkes Yan Kin dimainkan sebagai penyambut tamu pada acara tuan tanah, seperti di Jatinegara ataupun Rorotan. Di sinilah alat musik tehyan mulai dikenal dan akhirnya sering digunakan sebagai pengiring musik gambang kromong. kata Yahya.

Pada dasarnya, tambah Yahya, dalam orkes Yan Kin terdapat dua alat musik sejenis yang dimainkan dengan cara dlgesek selain tehyan. yakni alat musik sukong dan kongahyan. Ketiga alat musik Ini merupakan alat musik sejenis, hanya saja ukurannya yang berbeda. Ketiganya merupakan alat musik yang berasal dari China. Daii perpaduan dua kebudayaan inilah beberapa alat musik dalam orkes Yan Kin berbaur dengan alat musik pribumi. Lagu-lagu atau musik hasil perpaduan dua alat musik dari kebudayaan berbeda Inilah menghasilkan alunan pada gamelan ajeng atau gambang kromong.

Seiring berjalannya waktu, tak Jarang tehyan menjadi alat musik pengiring pada kesenian ondel-ondel. Seperti yang dilakukan Ahmad Jadi (42) pemilik kesenian ondel-ondel keliling yang berada di Cempakaputih. Jakarta Pusat. Jadi mengaku bahwa tehyan menjadi bagian penting alat musik pengiring ondel-ondel. Suara yang dihasilkan dari tehyan menuntun ondel-ondel ketika menari. Dalam kesenian ondel-ondel, menurut Ahmad, selain tehyan. unsur alat musik yang digunakan adalah gendang pencak, rabana, bende atau kemes. nlngnong. serta rebana ketipring. "Alat musik tehyan dimainkan untuk mengeluarkan unsur melodi dalam lagu ondel-ondel." tutur Ahmad Jadi. (beritajakarta.com/iiULZ

Lain Dulu Lain Sekarang
Sejarah Ondel- ondel mengatakan bahwa dahulu ondel- Ondel adalah alat penolak bala tau azimat, atau pelindung kampung. Kemudian ondel- ondel di arak keliling kampung untuk mengusir berbagai penyakit yang malanda desa. Dahulu pada saat manusia masih menganut kepercayaan animisme ondel- ondel dianggap benda keramat. Namun lama kelamaan, masyarakat mulai berbudaya, mulai beragama, mulai berpikir kiritis dan tidak percaya takhayul maka lama kelamaan ondel- ondel tidak lagi berfungsi sebagai boneka penolak bala. Pada zaman Ali Sadikin, ondel- ondel menjelma sebagai kesenian rakyat yang menghibur. Bentuk wajah yang tadinya menyeramkan berubah menjadi berwarna dengan hiasan di kepala, baju bewarna warni dan bergam corak yang menarik. Pergeseran fungsi ondel- ondel ini berdasar pada perubahan mindset masyarakat yang tidak lagi percara takhayul.

Selengkapnya simak di situseni.com



Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih Anda telah menyimak Artikel ini.
Artikel ini kami kutip dari berbagai sumber,sebaiknya Anda simak juga sumbernya melalui link yang disediakan.
Apabila berkenan silahkan berikan komentar.