Daerah Wisata di Maluku.

Obyek Wisata Daerah Maluku
 
Provinsi Maluku dengan Ibukota Ambon merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari 632 pulau besar dan kecil. Pulau terbesar adalah Pulau Seram (18.625 km2) disusul Pulau Buru (9.000 km2), Pulau Yamdena (5.085 km2) dan Pulau Wetar (3.624 km2).
Wilayahnya terbagi menjadi tujuh pemerintahan kabupaten dan satu kota yaitu Kota Ambon dengan ibukotanya Ambon, Maluku Tenggara ibukotanya Saumlaki, Maluku Tenggara ibukotanya Tual, Maluku Tengah ibukotanya Masohi. Buru ibukotanya Namlea, Seram Barat ibukotanya Piru, Seram Timur ibukotanya Bula dan Aru ibukotanya Dobo.
Pulau Halmahera dan Pulau Seram merupakan dua pulau terbesar di Kepulauan Maluku namun memiliki populasi penduduk yang paling sedikit, sementara Pulau Ambon dan Pulau Banda adalah dua pulau kecil namun memiliki populasi penduduk terbanyak.
Seluruh wilayah Kepulauan Maluku pada awalnya berada dalam satu provinsi yaitu Provinsi Maluku. Namun saat ini, secara administrative Kepulauan Maluku dimekarkan menjadi dua provinsi yaitu Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara yang sebelumnya merupakan Kabupaten Maluku Utara namun kini menjadi provinsi baru yang terpisah dan berdiri sendiri.
Daratan kepulauan Maluku pada umumnya merupakan kawasan pegunungan vulkanis yang ditutupi hutan kecuali Pulau Aru dan Tanimbar yang merupakan kawasan rawa-rawa. Gunung tertinggi di wilayah Maluku adalah Gunung Binaya (3.027 m) yang berada di Pulau Seram. Sebagai wilayah vulkanis, gempa bumi kerap terjadi di Kepulauan Maluku.
Pada masa lalu wilayah Maluku dikenal sebagai penghasil rempah-rempah seperti cengkeh dan pala sehingga menarik kedatangan pedagang dari Eropa. Saat ini masyarakat Maluku tetap menanam cengkeh dan pala namun dengan produksi yang tidak sebanyak masa lalu.
Wiiayah ini juga menghasilkan kakao, kopi dan buah-huahan seperti nanas yang sebagian besar diekspor. Laut Maluku merupakan sumber ikan yang sangat besar khususnya di wilayah perairan Pulau Seram dan kepuluan di wilayah Selatan Maluku. Produksi ikan di wilayah ini sebagian besar juga diekspor. Kawasan hutan Pulau Seram juga dikenal sebagai kawasan penghasil kayu besi (ironwood).

Sejarah
Secara historis Kepulauan Maluku terdiri dari kerajaan-kerajaan Islam yang menguasai pulau-pulau tersebut. Oleh karena itu, diberi nama Maluku yang berasal dan kata Al Mulk yang berarti Tanah Raja-raja.
Ketika Portugis datang sebagian wilayah Kepulauan Maluku berada di bawah kontrol Kesultanan Ternate yang bersaing dengan Kesultanan Tidore. Kedua kesultanan ini saling merebut pengaruh di wilayah yang kaya dengan tanaman rempah-rempah khususnya cengkeh dan pala ini.
Portugis memihak kepada Ternate dalam persaingannya dengan Tidore dan pada awal abad ke-16 Kesultanan Ternate memberikan hak monopoli kepada Portugis dalam perdagangan rempah-rempah. Hubungan Portugis dengan Ternate mulai tegang ketika Portugis membangun benteng pertamanya di Ternate.
Hubungan yang tidak harmonis ini berbuah pertempuran antara kedua belah pihak yang berakhir dengan kekalahan Portugis sehingga harus keluar dari Ternate pada tahun 1575. Portugis kemudian berhubungan baik kembali dengan Kesultanan Tidore dan berhasil membangun benteng di wilayah itu.
Kapal dagang Belanda datang pertama kali ke Maluku pada tahun 1599 dan kembali ke Eropa membawa rempah-rempah untuk dijual kembali dengan keuntungan besar. Sejak saat itu lebih banyak kapal dagang Belanda berdatangan ke Maluku. Kapal dagang Belanda itu memiliki ukuran yang lebih besar yang dilengkapi persenjataan yang lebih baik dibandingkan kapal dagang Portugis.
Kedatangan Belanda ke wilayah ini tidak disukai kesultanan Ternate. Pertempuran antara Belanda dan Ternate berakhir dengan kemenangan Belanda dan selanjutnya Belanda menaklukkan Ambon. Pada tahun 1630 Belanda berhasil membangun kedudukan di Ambon. Kehadiran Belanda terus mendapat perlawanan masyarakat setempat namun semua perlawanan berhasil dipadamkan pada sekitar tahun 1660.

Pulau Ambon selama ratusan tahun telah menjadi pusat transportasi dan ekonomi di wilayah kepulauan ini. Pulau Ambon pada masa lalu terdiri dari dua pulau yang terpisah namun saat ini menjadi satu karena adanya daratan sempit yang menyatukan kedua pulau yang terdapat di Passo.
Pulau Ambon bagian Utara yang memiliki daratan yang lebih luas disebut dengan Leihitu dan wilayah bagian Selatan yang berbentuk kepala anak panah disebut dengan Leitimur. Kota Ambon, ibukota Provinsi Maluku, terletak di semenanjung Leitimur—di sisi Selatan Teluk Ambon.
Pulau Ambon merupakan daratan yang sempit dengan panjang sekitar 48 km dan lebar 22 km. Daratan Pulau Ambon pada umumnya memiliki bentuk yang bergunung-gunung dengan sedikit wilayah datar. Hal ini menyebabkan kegiatan pertanian di pulau ini kurang bisa berkembang. Pulau ini memiliki cukup banyak tempat menarik untuk dikunjungi seperti pantai yang indah dan perairan yang bagus untuk menyelam dan snorkeling seperti yang terdapat di Amahusu, Namalatu, Latuhalat dan Pulau Pombo. Lokasi menyelam dan snorkeling tersebut memiliki taman laut dan terumbu karang yang indah.
Ambon sebagai Ibukota Provinsi Maluku dibangun oleh Belanda pada tahun 1517 dan merupakan kota kolonial yang cantik sebelum hancur dibom pada Perang Dunia ke-2. Kota Ambon terletak di kaki kawasan perbukitan yang berhadapan dengan kawasan pelabuhan laut.
Kota Ambon memiliki beberapa obyek wisata antara lain Museum Siwa Lima dan Tugu Doolan. Museum Siwa Lima memiliki koleksi antara lain benda-benda peninggalan sejarah, rumah adat dan pakaian adat Maluku. Dan museum ini pengunjung dapat melihat panorama yang indah sekitar Kota Ambon.

Tugu Doolan terletak didekat kawasan Kudamati dan merupakan tugu peringatan bagi tentara Australia yang tewas bertempur di daerah ini.
Wisatawan dapat mengunjungi Monumen Pattimura, salah seorang pahlawan nasional yang memimpin perlawanan terhadap Belanda di daerah ini. Monumen yang dibangun di pinggir sebuah lapangan olah raga ini adalah lokasi di mana Pattimura dan pengikutnya menjalani eksekusi hukuman gantung.
Di kawasan Karang Panjang terdapat monumen Mertha Christina Tiahahu yang juga adalah seorang pejuang kemerdekaan Maluku. Ayah Tiahahu adalah pendukung perjuangan Pattimura melawan Belanda. la kemudian ditangkap dan dieksekusi di Pulau Nusa Laut dan Tiahahu dibuang ke Jawa.
Dia memprotes tindakan Belanda dengan melakukan aksi mogok makan hingga tewas, jenazahnya kemudian dibuang ke laut. Kisah hidup Tiahahu mungkin lebih menarik dari monumennya namun pemandangan dari lokasi monumen ini juga sangat indah.
Wisatawan dapat mengunjungi Soya Atas yang berada di lereng Gunung Sirimau (950 m). Di sini terdapat gereja Protestan yang sangat tua dengan bentuknya yang unik yang disebut-sebut dibangun pada tahun 1546. Dari puncak Gunung Sirimau wisatawan dapat menyaksikan panorama yang indah ke arah Kota Ambon. Di tempat ini terdapat tempayan setan yang dipercaya dapat memberikan keberuntungan kepada pengunjung.

Di  Natsepa yang berada di kawasan Teluk Baguala terdapat Taman Rekreasi Natsepa Indah yang memiliki lokasi pantai yang indah dan perairan yang menyenangkan untuk berenang. Pada hari libur lokasi pantai ini selalu ramai dikunjungi orang. Tidak jauh dari tempat ini terdapat Taman Lunterse Boer yang juga memiliki pantai yang menarik.
Waai yang terletak di kawasan pantai Timur Pulau Ambon juga memiliki lokasi pantai yang indah namun tempat ini juga terkenal dengan Kolam Waiselaka yang menjadi habitat hewan belut dan disebut-sebut dapat memberikan keberuntungan bagi pengunjung yang melihat hewan ini. Belut-belut berada di dasar kolarn di balik bebatuan. Penduduk setempat memancing belut agar mau muncul ke permukaan dengan menggunakan umpan telur.
Di Tantui terdapar Commonwealth War Cometery yang merupakan lokasi pemakaman lebih dari 2.000 tentara sekutu berkebangsaan Australia, Belanda, Inggris dan India yang tewas dalam berbagai pertempuran di Sulawesi dan Maluku pada masa Perang Dunia ke-2. Pemakaman ini memiliki taman yang indah.
Di lepas pantai, di Timur Laut Pulau Ambon terdapat sebuah pulau kecil Pulau Pombo yang memiliki lokasi perairan yang sangat bagus untuk menyelam karena airnya yang jernih dan keindahan alam bawah air dengan terumbu karang serta dihiasi dengan flora dan fauna laut. Lokasi ini menjadi kawasan cagar alam Taman Pulau Pombo yang dilindungi.
Wisatawan dapat mengunjungi Benteng Amsterdam yang berada di kawasan pantai Utara di dekat Hila dan Kaitetu dengan panorama pantai yang indah. Benteng ini dibangun oleh Portugis pada tahun 1512 namun kemudian diambil alih oleh Belanda pada awal abad ke-17. Benteng yang memiliki museum kecil ini telah mengalami perbaikan secara menyeluruh dan menjadi salah satu benteng paling terpelihara di Maluku.
Di sebelah Benteng Amsterdam terdapat sebuah gereja Immanuel Protestan yang diduga sebagai gereja tertua di Indonesia. Gereja ini dibangun Portugis pada tahun 1580 namun diambil alih oleh Belanda 200 tahun kemudian. Tidak jauh dari gereja terdapat Masjid Wapaue yang dibangun pada tahun 1414 di dekat Gunung Wawane. Menurut legenda masjid ini dipindahkan ke tempatnya sekarang pada tahun 1664 dengan menggunakan kekuatan gaib.
Pulau Buru berada di sebelah Barat Pulau Ambon yang pada masa lalu dikenal sebagai tempat tahanan bagi orang-orang yang menjalani hukuman. Namun saat ini Pulau Buru merupakan lokasi yang menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai.
Pulau ini memiliki lokasi menarik lainnya seperti air terjun dan juga danau yang indah. Salah satu danaunya yang indah adalah Danau Namniwel yang Ietaknya antara Desa Sawa dan Waiperang. Tempat yang patut dikunjungi wisatawan untuk mengamati kumpulan burung belibis yang terbang bebas di udara.

Danau lainnya adalah Danau Jikumerasa yang berlokasi di Desa Jikuerasa dan dapat ditempuh dengan hanya berjalan kaki sekitar 200 meter dari jalan raya. Panorama alamnya indah dan dapat berperahu di atas danau untuk menikmati keindahan alam.
Danau Rana juga memiliki pemandangan yang indah dan dipercaya memiliki kekuatan magis bagi masyarakat setempat. Untuk mencapainya dapat melalui Desa Wamlana.
Ada juga Pantai Tahilopong, sekitar 17 krn dari Namlea merupakan pantai yang bersih dan cocok untuk berenang dan banyak dikunjungi masyarakat setempat sebagai tempat rekreasi di hari libur.
Pantai lainnya yang banyak dikunjungi masyarakat adalah Pantai Sikubesar, sekitar 3 km dari Namlea. Di sekitar sini ada juga gua vang ditemukan oleh tentara Australia pada tahun 1942 di Desa Lala. Kunjungan di daerah ini juga bisa untuk menyaksikan penyulingan minyak kayu putih.
Ada sejumlah pasir putih lainnya yaitu pantai Nalbesi, Fogi dan pantai Waki yang merupakan pantai berpasir putih di bagian Selatan Pulau Buru dan memiliki pasir putih dengan panorama alam yang indah.
Sekitar 10 km dari Namlea dekat Desa Ubung terdapat sebuah monumen untuk memperingati pendaratan pasukan tentara RI untuk melawan pemberontakan gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Bung Hatta, mantan Wakil Presiden RI pertama.

Di Pulau Buru ini juga terdapat benteng Defencie dekat Desa Kayeli yang merupakan benteng peninggalan Belanda. Namun kini hanya dapat sisa-sisa reruntuhan benteng saja.
Masih di desa Kayeli terdapat masjid tua yang berumur 156 tahun, sekitar 200 meter dari bibir pantai namanya Masjid Al-Hasan Al Waelia yang dibangun jaman Kesultanan Hasan Wael. Masjid ini sudah direnovasi tahun 2001 dan dapat dimanfaatkan lagi setelah sekian lama terbengkalai.
Masjid tua juga dapat ditemukan di Desa Masarete namanya Masjid Palumata atau disebut juga Nurul Iman, namun kondisinya sudah tak terawat dimana di samping masjid terdapat meriam peninggalan Portugis.

Pulau Saparua merupakan bagian dari Kepulauan Lease bersama-sama dengan Pulau Haruku dan Pulau Nusa Laut. Pulau yang menjadi tempat lahirnya pahlawan Pattimura ini memiliki pantai yang indah. Di sini juga terdapat Benteng Duurstede yang dibangun Belanda pada tahun 1676 untuk menghadapi serangan Portugis.
Di dekat benteng ini terdapat lokasi Pantai Waisisil yang menjadi lokasi pertempuran antara pasukan Pattimura dan Belanda- Di lokasi benteng terdapat museum yang mempertunjukan diorama dan perjalanan sejarah masyarakat Maluku termasuk perlawanan Pattimura.
Pulau Saparua juga rnemiliki lokasi pantai dengan perairan yang bagus untuk kegiatan snorkeling yaitu di Kollor; di depan Putih Lessi Indah Cottages. Pada jarak beberapa ratus meter dari pantai terdapat Gua Tujuh Puteri yang memiliki kolam renang.
Pulau Haruku pada masa lalu merupakan salah satu basis pertahanan Belanda terkuat di Maluku. Di pulau ini terdapat Benteng New Zeland dan Benteng Neuw Horn yang sudah sangat tua namun masih menarik untuk dikunjungi.
Pulau ini memiliki kawasan pantai indah namun agak terpencil antara lain seperti Pantai Hulaliu yang pernah menjadi lokasi pertempuran sengit antara pasukan Sekutu dan tentara fepang pada saar Perang Dunia ke-2.

Pulau Nusa Laut memiliki pantai yang masih sangat alami; belum tersentuh oleh perkembangan industri pariwisata. Di sini terdapat sebuah gereja tua peninggalan kolonial dan juga Benteng Beverwyk. Pejuang Maluku yang gigih—bapak pahlawan wanita Martha Christina Tiahahu— ditangkap Belanda di pulau ini pada saat melancarkan perlawanan menentang Belanda.
Pulau Seram merupakan pulau terbesar kedua di Provinsi Maluku yang meliputi luas wilayah 171.151 kmz. Sebagian besar daratan Pulau Seram merupakan kawasan pegunungan yang ditutupi hutan yang cukup lebat.
Sebagian orang Maluku menyebut Pulau Seram dengan nama Nusa Ina yang berarti Pulau Ibu karena puIau ini dipercaya sebagai tempat asal mula nenek moyang masyarakat Maluku tengah.
Wilayah pedalaman Pulau Seram pada umumnya dihuni oleh penduduk asli yang dinamakan orang Alfuro dan orang Nuaula yang merupakan keturunan orang Papua. Wilayah pantai Selatan dan Barat Pulau Seram umumnya dihuni masyarakat Melayu yang datang ke pulau ini sebagai transmigran asal Jawa dan Sulawesi.
Pulau ini dikelilingi terumbu karang dan di kawasan perairan pulau ini menjadi habitat aneka hewan laut antara lain lumba-lumba yang hidup di alam bebas. Tersedia jalur trekking yang ditempuh selama tujuh hari yang menghubungkan Wahai yang berada di kawasan pantai Utara dan Hatumetan yang berada di Selatan. Jalur trekking melalui sebagian wilayah Taman Nasional Manusela seluas 189.000 hektar yang menjadi habitat berbagai jenis spesies burung.
Di sekitar Pulau Seram terdapat beberapa pulau kecil yang menarik untuk dikunjungi antara Pulau Sawai dan Pulau Raja yang berada di lepas pantai di dekat Sawai, desa yang berada di kawasan pantai Utara Pulau Seram. Pulau Sawai memiliki perairan yang bagus untuk berenang sedangkan Pulau Raja merupakan pulau yang di huni hewan kelelawar.
Kedua pulau ini dapat dicapai dengan menyewa perahu motor dari Sawai selama 30 menit. Pada perairan di kawasan ini terdapat gua-gua bawah air yang dihuni kura-kura. Pantai Ora merupakan lokasi yang bagus untuk berenang dan snorkeling.

Kepulauan Banda terletak di Tenggara Pulau Ambon yang terdiri dari 10 pulau kecil yang meliputi luas keseluruhan 55 km2. Tiga pulau terbesar di kawasan ini adalah Pulau Neira, Pulau Banda Besar dan Pulau Gunung Api.
Bandaneira adalah satu-satunya kota di kepuluan ini yang terletak di Pulau Neira di mana terdapat juga pelabunan udara. Tujuh pulau lainnya merupakan pulau yang lebih kecil dan kawasan ini telah menjadi salah satu tujuan wisata yang disukai turis mancanegara karena keindahan alamnya.
Kawasan perairan di kepulauan ini memiliki kehidupan bawah air yang sangat mengagumkan: surga bagi penyelam bawah air. Wisatawan juga dapat melakukan snorkeling di kawasan terumbu karang yang sangat indah.
Bandaneira merupakan titik awal yang bagus bagi wisatawan yang akan melakukan eksplorasi di Kepuluan Banda. Pada masa lalu Bandaneira merupakan kota kolonial yang sibuk dan memiliki rumah-rumah besar (mansion) yang dihuni pendatang dari Eropa. Saat ini Bandaneira merupakan tempat yang sepi namun menyenangkan dengan masyarakatnya yang ramah.
Bandaneira memiliki lokasi wisata yang menarik untuk dikunjungi antara lain adalah Rumah Budaya yang berada di Jl Gereja Tua. Bangunan ini dulunya merupakan vila milik petinggi Belanda namun saat ini berfungsi sebagai museum yang memiliki koleksi antara lain meriam, mata uang kuno, peta dan helm kuno. Di museum ini juga terdapat lukisan mengenai peperangan pada masa Ialu. Museum ini juga memiliki diorama mengenai sejarah Banda.
Lokasi wisata lainnya yang bernilai sejarah di Bandaneira adalah Benteng Nassau peninggalan Belanda yang pertama kali dibangun oleh Portugis pada tahun 1529 ketika mereka pertama kali ke Bandaneira dari pangkalan mereka di Ternate.
Namun sebelum pembangunan benteng ini selesai Portugis harus angkat kaki ketika Belanda datang dan mengusai Bandaneira. Portugis meninggalkan benteng yang baru tahap pembangunan fondasi. Belanda kemudian melanjutkan pembangunan benteng ini hingga selesai. Saat ini bangunan benteng yang tersisa hanyalah tiga dinding dan sebuah pintu gerbang utama.
Tidak jauh dari Benteng Nassau, di sebelah Timur terdapat Benteng Belgica yang dibangun Belanda pada tahun 1611 di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Pieter Both. Dia ditugaskan untuk membangun monopoli perdagangan oleh Belanda di wilayah ini dan benteng ini menjadi markas militer Belanda hingga tahun I860.
Dari kondisi hampir runtuh, benteng ini mengalami perbaikan besar-besaran beberapa tahun lalu dan saat ini dalam kondisi baik. Panorama di sekitar benteng ini sangat mengesankan dengan latar belakang Gunung Api yang menjulang. Berjalan-jalan di sekitar benteng ini sangat menyenangkan sambil membayangkan suasana masa kolonial tempo doeloe.
Pada tahun 1936 dua tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir yang ditahan Belanda di penjara Boven Digul, Papua Tengah dipindahkan ke Bandaneira. Kedua tokoh tersebut tinggal di dua rumah berbeda selama pembuangan mereka di Bandaneira.
Rumah peninggalan Bung Hatta yang kini dikenal dengan Rumah Hatta memiliki beberapa mesin ketik tua perabotan dan pakaian yang masih tersisa. Rumah kediaman Syahrir berisi perangkat perabotan tua dan berbagai barang kenang-kenangan dari era menjelang revolusi kemerdekaan. Pemimpin nasionalis lainnya Dr. Cipto Mangunkusumo juga pernah dibuang ke Bandaneira antara tahun 1928 hingga 1940. Rumah kediaman dokter pejuang itu juga terdapat di kota ini.

Gereja Protestan Belanda yang memiliki bentuk asritektur unik ini disebut gereja tua karena dibangun kembali pada tahun 1852 setelah bangunan sebelumnya hancur dilanda gempa bumi. Gereja yang berada di Jl. Gereja Tua ini telah mengalami perbaikan intensif belum lama ini dan saat ini masih berfungsi sebagai gereja bagi penganut agama Protestan. Tidak jauh dari gereja tua ini terdapat gereja lainnya yaitu Gereja Elim Tabernakel di Jl. Kujali dengan bentuk bangunan yang tak kalah indahnya.

Istana Mini adalah sebuah bangunan yang menjadi kediaman Gubernur Jenderal Belanda termasuk diantaranya Jan Pieterszoon Coen. Pengunjung dapat berjalan-jalan menyusuri halaman bangunan yang luas ini. Bangunan menarik lainnya di Bandaneira adalah bekas rumah kediaman Kapten Cole, seorang pemimpin angkatan laut Inggris yang berhasil merebut Benteng Belgica pada tahun 1810.
Dari Bandaneira wisatawan dapat mengunjungi berbagai lokasi rnenarik yang terdapat di berbagai pulau yang ada di wilayah ini. Tidak semua pulau dapat dicapai dengan menumpang angkutan kapal reguler dan Bandaneira. Kapal penumpang reguler dari Bandaneira hanya melayani transportasi ke Banda Besar dan Pulai Ai. Wisatawan harus menyewa perahu motor yang tersedia di pelabuhan pasar ikan untuk menuju ke pulau-pulau lainnya. Harga sewa perahu sangat negotiable.

Pulau Gunung Api memiliki sebuah gunung vulkanis setinggi 666 meter bernama Gunung Api yang telah beberapa kali meletus, terakhir terjadi tahun 1988 dan dapat didaki hingga ke puncak selama satu setengah jam.
Untuk mengunjungi Pulau Gunung Api wisatawan dapat menyewa perahu motor dari pasar ikan Bandaneira. Pulau ini memiliki kawasan pantai. dengan bentuk batu karang yang indah yang berada di Utara pulau.
Pulau Banda Besar merupakan pulau terbesar di kawasan Kepulauan Banda. Di pulau ini terdapat sisa-sisa Benteng Hollandia yang dibangun pada tahun 1624. Benteng ini memiliki panorama yang indah ke arah pulau-pulau yang ada di sekitar Banda Besar.
Benteng ini dulunya merupakan bangunan yang megah sebelum hancur diguncang gempa bumi tahun 1743. Benteng lainnya di pulau ini adalah benteng Concordia yang berada di kawasan pantai Timur.
Pantai Lanutu yang berada di kawasan desa Selamon merupakan pantai yang sangat bagus untuk berenang dan snorkeling. Di pulau ini juga terdapat kawasan perkebunan pala peninggalan era kolonial.

Pulau Syahrir juga dikenal dengan nama Pulau Pisang karena bentuknya yang menyerupai pisang. Pulau Syahrir memiliki kawasan pantai yang indah dihiasi dengan aneka batu karang dan kehidupan bawah air dengan aneka ikan warna-warni. Pulau ini dapat dicapai dengan menumpang perahu motor selama 40 menit dari Bandaneira.
Di Pulau Ai ada sisa bangunan benteng Inggris dan juga rumah milik perusahaan perkebunan Belanda, Welvaren. Perusahaan perkebunan Welvaren didirikan pada pertengahan abad ke-18 dan memiliki luas perkebunan yang meliputi sepertiga luas pulau ini. Pulau Ai juga memiliki lokasi perairan yang bagus untuk kegiatan marketing. Wisatawan dapat menanyakan kepada tukang perahu motor lokasi marketing yang bagus.
Kabupaten Maluku Tenggara terdiri atas wilayah kepulauan yang tersebar di wilayah antara Pulau Timor dan Papua. Pada wilayah ini terdapat tiga gugusan kepulauan utama yaitu Kepulauan Kai, Aru dan Tanimbar,

Tual adalah Ibukota Kabupaten Maluku Tenggara yang terletak di Pulau Kai Kecil, bagian dari Kepulauan Kai. Selain sebagai pusat adminsitrasi pemerintahan, Tual juga menjadi pusat transportasi rnenuju ke wilayah lainnya yang lebih terpencil di Maluku Tenggara.
Fasilitas wisata di Kepuluan Kai dan juga pulau-pulau lainnya di Maluku Tenggara umumnya masih sangat terbatas namun demikian wilayah ini memiliki pesona wisata yang sangat menarik.
Pulau-pulau di wilayah ini memiliki kawasan pantai yang indah, bahkan salah satu yang terindah di Indonesia. Sarana transportasi juga masih terbatas sehingga diperlukan waktu dan energi yang besar untuk mengeksplorasi kawasan wisata di wilayah ini.
Kepulauan Kai meliputi 287 pulau besar dan kecil dengan tiga pulau utamanya yaitu Pulau Kai Kecil atau Nuhu Roa, Pulau Dullah dan Pulau Kai Besar. Dua kota utama di Pulau Kai Kecil dan Pulau Dullah masing-masing adalah Langgur dan Tual. Pulau Kai Besar merupakan wilayah yang banyak dihuni orang Banda. Mereka pindah dari Pulau Banda ke Pulau Kai Besar karena faktor keamanan pada masa kolonial dulu.
Pantai Pasir Panjang yang berada di Pulau Kai Kecil merupakan kawasan pantai indah dengan kondisi pasir pantai yang sangat halus dan bersih. Air laut yang jernih membiru dan ribuan pohon kelapa yang terhampar di pinggir pantai. Kawasan Pasir Panjang yang sangat alami ini merupakan kawasan pantai terbaik dan paling mudah terjangkau di Kepulauan Kai.
Tidak jauh dari Pasir Panjang, di Ohoideertawun, terdapat pula pantai yang indah dan sebuah gua bernama Gua Luwat yang memiliki lukisan pada dindingnya. Di Pulau Dullah yang terletak di Timur Laut Pulau Kai Kecil terdapat Museum Belang yang memiliki koleksi perahu kora-kora.
Dalam perjalanan ke Pulau Dullah wisatawan akan melalui Taman Anggrek dan juga Danau Ngadi. Di pantai Tamadan terdapat sisa-sisa peninggalan militer Jepang pada Perang Dunia ke-2.
Pulau Kai Besar memiliki kawasan pantai yang menjadi habitat aneka burung. Kondisi flora dan fauna di tempat ini masih alami; belum tersentuh tangan manusia, Di pulau ini juga terdapat kawasan desa tradisional yang sangat menarik untuk dijelajahi.
Kepulauan Tanimbar merupakan gugusan kepulauan yang terdiri dari 66 pulau besar dan kecil yang dltemukan pelaut Belanda pada tahun 1629 namun belum dihuni masyarakat hingga 300 tahun kemudian karena tidak tersedianya air tawar yang mencukupi di wilayah ini.
Saat ini, sebagian pulau-pulau sudah berpenghuni dan masyarakat kepulauan Tanimbar dikenal sebagai penghasil berbagai kerajinan tangan seperti benda-benda ukiran, lukisan dan lain-lain.
Saumlaki adalah kota utama di wilayah ini yang berada di Pulau Yamdena. Sarana transportasi menuju ke Kepulauan Tanimbar ini masih sangat terbatas. Perjalanan laut ke wilayah ini terkadang harus menempuh ombak yang cukup besar.
Di dekat Saumlaki terdapat sebuah patung batu yang menarik yang berbentuk menyerupai perahu sepanjang 18 meter, lokasi patung batu ini terdapat di Sangliat Dol yang dapat ditempuh selama 1,5 jam dari Saumlaki. Di sekitar Saumlaki terdapat dua pantai yang indah dan menarik yaitu Ilngei dan Pantai Leluan.



Artikel Terkait: