Masjid Pangeran Jayakarta.


Kumandang adzan menggema dari Masjid As-Salafiyah bersamaan dengan terik mentari yang berada tepat di atas kepala. Ini adalah salah satu masjid tertua di Jakarta.

Masjid yang berada di kawasan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, ini merupakan masjid bersejarah yang kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya, dan berusia lebih dari empat abad.

Konon, keberadaan Masjid ini tidak lepas dari nama Pangeran Achmad Djakerta (Pengeran Jayakarta), yang makamnya ada di sebelah masjid. Berdasarkan catatan sejarah, keberadaan masjid tersebut bermula ketika VOC menaklukkan Jayakarta (Mei 1619).

Saat itu JP Coen bukan saja menghancurkan keraton, tapi juga memporakporandakan masjid Kesultanan Jayakarta yang kini letaknya kira-kira di Kalibesar Timur.

Karena terdesak Pangeran Achmad Djakerta (Pangeran Jayakarta) dan pasukannya bergerak mundur ke timur hingga daerah Sunter, lalu ke selatan.

Sambil terus bergerak ke selatan, ketika itu Pangeran Jayakarta membuang jubahnya ke sebuah sumur tua. Ini untuk mengelabui VOC yang akan mengira Pangeran Jayakarta telah tewas ke dalam sumur tua itu.

Benar saja, pasukan Belanda meyakinkan kalau sang pengeran telah masuk sumur dan meninggal dunia. Mereka kemudian menghentikan pengejaran dan menimbun sumur dengan tanah.

Pada keadaan lain, situasi tidak memungkinkan bagi Pangeran Jayakarta dan sisa pengikutnya untuk kembali, mereka memutuskan untuk berjalan terus ke selatan.

Sampailah mereka pada sebuah hutan jati di tepi Kali Sunter yang membelah hutan, yang kemudian dikenal daerah Jatinegara Kaum, dan memutuskan untuk tinggal.

Permulaan tahun 1620, Pangeran Jayakarta kemudian membangun masjid dekat Kali Sunter. Kegunaan masjid ini untuk menggalang kekuatan kembali.

Sebelum bernama Masjid As-Salafiyah, masjid ini dikenal dengan sebutan Masjid Pangeran Jayakarta.  Puluhan ulama, tokoh masyarakat dan jawara seringkali berkumpul di masjid ini menyusun strategi perjuangan dan dakwah Islam.

Menurut keterangan Oyon, masjid ini merupakan markas para gerilyawan melawan Belanda.

Hingga kini, Masjid As-Salfiyah telah mengalami delapan kali renovasi. Empat tiang utama dari kayu jati yang menjadi penyangga masjid merupakan penyangga aslinya.

Selain itu, disisi samping kiri masjid terlihat makam utama Pangeran Achmad Djakerta dan kerabat serta pengikutnya yang berada di dalam sebuah pendopo.

Makam Pangeran Jayakarta dan pengikutnya baru baru diumumkan pada 1956 bertepatan dengan HUT DKI ke-429. Hal itu dirasaikan sampai penjajah pergi. Karena sebelumnya selalu dirahasiakan.

"Masjid ini melambangkan pengorbanan semangat jihad Pangeran Achmad Djakerta untuk merebut Jayakarta dari penjajah," katanya.

Menurut sejarah versi Belanda, sampai 1670 Batavia tidak pernah aman dari gangguan keamanan akibat aksi gerilya ini. Ketika Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten menyerang VOC, Jatinegara Kaum kembali memegang peran penting sebagai pos terdepan. Hal yang sama juga terjadi ketika balatentara Mataram melakukan dua kali penyergapan ke Batavia (1628 dan 1629). "Tepatnya tahun 1700 Pengeran Achmad Djakerta akhirnya meninggal dan dimakamkan di samping Masjid," ujar Oyon.

Tercatat beberapa peninggalan sejarah masjid ini hilang dan tak diketahui dimana rimbanya. Yang tersisa hanya empat tiang penyangga dan sebuah kaligrafi Arab berbentuk sarang tawon di dalam plafon menara masjid.

Seperti nasib masjid tua lainnya, As-Salafiyah sekarang lebih terlihat lapang. Penampilannya pun terkesan mewah dengan keramik dan marmer menutupi hampir seluruh temboknya.

Persis sama dengan masjid-masjid seumurnya, tampaknya ukuran asli As-Salafiyah hanya seluas empat pilar dengan selasar sepanjang 5 meter di setiap sisinya.

Dan inilah masjid tua yang paling banyak memiliki makam di sisi selatan, barat, dan utara. "Biasanya jika ziarah dilakukan saat malam hari, namun khusus bulan Ramadhan ziarah tidak dilakukan pada malam hari," ungkapnya. Ia pun mengatakan, para penziarah umumnya memanjatkan doa serta meminta banyak keinginan agar terkabul.

www.vivanews.com
Next Post Previous Post