Ruwatan.


Ruwatan; Upacara Pembebasan Malapetaka*

Salah satu upacara tradisi yang sekarang masih ditaati, dipatuhi, diyakini, dan dilaksanakan oleh masyarakat Jawa yaitu tata upacara ruwatan. Ruwatan berasal dari kata “ruwat” dan mendapatkan sufik -an. Kata “ruwat” mengalami gejala bahasa metatesis dari kata “luwar”, yang berarti terbebas atau terlepas.
Maksud diselenggarakan upacara ruwatan ini adalah agar seseorang yang “diruwat” dapat terbebas atau terlepas dari ancaman mara bahaya (mala petaka) yang melingkupinya. Seseorang yang oleh karena sesuatu sebab ia dianggap terkena sukerta/ aib (klesa = Jawa Kuna), maka ia harus diruwat.

Tradisi kepercayaan yang dimiliki masyarakat Jawa, bahwa seseorang yang oleh karena suatu peristiwa terkena sukerta, ia akan menjadi mangsa Batara Kala. Untuk dapat melepaskan/membebaskan seseorang dari ancaman Batara Kala, maka masyarakat Jawa yang meyakini menyelenggarakan upacara ruwatan, yang telah tertata dan diatur secara tertib. Usaha yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa dengan mengadakan upacara ruwatan tersebut tak lain adalah untuk melindungi manusia dari segala ancaman bahaya. Koentjaraningrat memasukkan upacara ngruwat sebagai ilmu gaib protektif, yaitu upacara yang dilakukan dengan maksud untuk menghalau penyakit dan wabah, membasmi hama tanaman dan sebagainya, yang seringkali menggunakan mantra-mantra untuk menjauhkan penyakit dari bencana (Koentjaraningrat 1984). Dengan demikian masyarakat yang melaksanakan upacara ruwatan percaya bahwa mereka akan terlindungi dari ancaman mara bahaya.

Thomas Wiyasa Bratawijaya pernah menyebutkan seseorang yang seharusnya diruwat, seperti: kedana-kedini, ontang-anting, julung wangi, julung pujud, margana, gondang kasih, dampit, unting-unting, lumunting, pendawa, pendawi, uger-uger lawang, kembang sepasang, orang yang menjatuhkan dandang, mematahkan batu gilasan, menaruh beras di dalam lesung, mempunyai kebiasaan membakar rambut dan tulang, dan membuat pagar sebelum rumahnya jadi (Bratawijaya 1988).

Dalam upacara ruwatan sering dipergelarkan pertunjukan wayang. Wayang ialah bentuk pertunjukan tradisional yang disajikan oleh seorang dalang dengan menggunakan boneka atau sejenisnya sebagai alat pertunjukan (Wibisono 1983). Dalam pertunjukan wayang ini disajikan lakon wayang secara khusus. Lakon wayang yang disajikan sebagai sarana upacara ruwatan ini biasanya Murwakala dan Sudamala. Baik lakon Murwakala dan Sudamala, keduanya termasuk wayang pada zaman purwa.

Wayang zaman purwa terbagi atas 4 bagian, yaitu: mitos-mitos permulaan kosmos mengenai dewa, raksasa, dan manusia; Arjunasasrabau, yang memuat pendahuluan epos Ramayana; Ramayana; dan Mahabharata (Suseno 1985). Di dalam wayang dikandung hakekat kehidupan yang sangat mendasar. Aspek penting dalam kaitannya dengan hakekat wayang ialah masyarakat Jawa sering mengaitkan antara peristiwa yang terjadi di dalam dunia wayang dengan dunia nyata.

Hakekat wayang adalah bayangan dunia nyata, yang didalamnya terdapat makhluk ciptaan Ilahi, seperti: manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan bahkan dunia seisinya. Pembayangan itu berisi tentang gambaran kehidupan manusia, terutama mengenai sifat keutamaan/ kemuliaan dan keangkaraan/kejahatan. Peristiwa yang terjadi dalam dunia nyata, yang disebabkan oleh sesuatu hal sehingga seseorang terkena sukerta, akan menjadi mangsa Batara Kala.

Dalam wayang, visualisasi Batara Kala adalah dewa berwajah raksasa yang tinggi, besar, menyeramkan dan menakutkan. Kala berarti waktu, ini mengisyaratkan kepada seseorang, apabila ia tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, akan menjadi orang bodoh, karena tergilas oleh waktu yang dikuasai oleh Batara Kala, sebagai Dewa Waktu (Bratawijaya 1988).

Anggapan-anggapan ini lama kelamaan menjadi keyakinan yang kokoh di dalam hati sanubari mayarakat Jawa. Agar terhindar dari ancaman Batara Kala, mereka mengadakan upacara ruwatan dengan sarana pertunjukan wayang dengan lakon khusus, yaitu Murwakala atau Sudamala.

Lakon Murwakala itu sendiri sangat populer dalam masyarakat Jawa, khususnya di kalangan para dalang. Secara etimologi, murwakala berasal dari kata “murwa” dan “kala”. “Murwa” bentukan dari kata “purwa” yang berarti awal, asal-muasal, permulaan atau sebab-musabab. Sedangkan “kala” berarti waktu. Murwakala berarti menelusuri permulaan kala. Kala adalah tokoh dewa/ batara, suami Batari Durga. Lakon ini mengisahkan bagaimana awal, asal-muasal, sebab-musabab, atau permulaan tokoh Batara Kala. Murwakala adalah lakon yang pada masa kini dikatakan paling mustajab untuk menolak bahaya magis. C.C. Berg mengatakan bahwa lakon ini mengisahkan tokoh Batara Kala, seorang dewa raksasa yang menjelma sebagai akibat hawa nafsu jahat dari Batara Guru lalu mencari manusia sebagai mangsanya, tetapi pada suatu pertunjukan wayang dibinasakan oleh dalang dengan jampi-jampi, dan lakon ini dianggap demikian besar kekuatan gaibnya, sehingga tidak dipertunjukkan tanpa mengambil berbagai tindakan perlindungan (Berg 1974).

Lakon Murwakala dapat dipaparkan sebagai berikut (seperti yang dilaksanakan oleh dalang Hardaguna, di kediaman Mas Hatmakarjana, seorang kamituwa desa Maja, Pracimantara, Wonogiri, yang kemudian diceritakan kembali oleh Suparja: naskah koleksi FSUI/WY 92 - W 64.02). Upacara ruwatan itu dilaksanakan pada hari Akad (Minggu) Pon, jam 10 pagi, tanggal 6 Juli 1941 (Suparjo 1941). Batara Guru dan Narada turun ke dunia, memerintahkan dalang Sejati supaya memberikan pertolongan kepada seseorang di desa Maja yang menjadi mangsa Batara Kala. Pada suatu saat Batara Guru naik sapi Andini, namun di tengah jalan ia menabrak Batara Kala, dan terbangun. Batara Kala menggugat Batara Guru karena selalu menghalang-halangi mangsanya. Batara Guru memberikan nasihat kepada Batara Kala, bahwa ia bisa ruwat dari segala mangsanya oleh seorang dalang yang mendalang siang hari.
Sementara Dewi Uma menggugat juga kepada dewata karena mangsa Batara Kala selalu dikurangi, pada saat itulah Uma mendapatkan kutukan sehingga berubah wujud menjadi Durga. Dewata memerintahkan agar Durga ke desa Maja, di situlah ia akan teruwat oleh dalang Sejati atau dalang Sampurna. Durga kemudian mengembara dan bertemu dengan Batara Kala. Batari Durga memberikan banyak bala tentara kepada Batara Kala yang terjadi dari air seni. Batari Durga kemudian mencari telaga pangruwatan dan Batara Kala melanjutkan perjalanan menuju desa Maja.

Seorang ksatria tampan, ontang-anting bernama Garuda Lare dikejar-kejar Batara Kala, kemudian ia bersembunyi di balik periuk besar (dandang) yang sedang dipakai merebus air. Periuk besar itu roboh sehingga air panasnya tumpah mengenai kaki Batara Kala, luluh. Butapa dan Butapi diperintahkan Batara Kala menggoda ksatria tersebut, namun ksatria itu tetap bersembunyi di balik periuk besar yang pecah tadi. Batara Kala setelah tidak menemukan ksatria itu, kemudian pergi. Batara Kala bertemu dengan Bapa Truna, seorang ontang-anting mencari telaga pangruwatan. Bapa Truna akan dimangsa Batara Kala; terjadilah perang, namun Batara Kala lari meninggalkan tempat. Batara Kala di tengah perjalanan bertemu dengan Garuda Lare dan ingin memangsanya. Garuda Lare lari dan Batara Kala terus mengejar. Garuda Lare bertemu dengan seorang wanita sedang hamil di desa Sendang Kawit. Wanita itu duduk di tengah-tengah pintu. Garuda Lare kemudian menasihatinya, bahwa tidak pantas ia duduk di tengah-tengah pintu, karena ia akan menjadi mangsa Batara Kala.

Wanita itu pun menuruti nasihat Garuda Lare. Batara Wisnu dan Dewi Sri menerima kedatangan Batara Narada. Batara Narada memerintahkan mereka agar turun ke dunia bertempat tinggal di Mendanggawa. Wisnu menjadi dalang bernama Sejati atau Sampurna. Dewi Sri sebagai penggender, dan Batara Narada sebagai nayaga bernama Cupak. Mereka berangkat menuju Sendanggawa. Hatmakarjana minta pertolongan kepada dalang agar meruwatnya, karena baru saja terkena sukerta, yaitu kerobohan periuk besar, termasuk salah satu mangsa Batara Kala. Batara Kala dilempar gecko (daging mentah untuk sajen) oleh dalang. Dalang kemudian membakar kemenyan. Dalang Sejati bertemu Batara Kala. Batara Kala bertanya: “Lakon apa itu?”. Dalang menjawab: “Lakon Kandhabuwana menceritakan jagad gede dan jagad cilik”. Dalang kemudian membaca ciri pada dada Batara Kala. Setelah ciri tersebut terbaca, Batara Kala ingin melihat cirinya itu. Dalang mulai membaca mantra panulak setan brekasakan berupa carakan balik, sebagai berikut:
Nga tha ba ga ma
Nya ya ja dha pa
La wa sa ta da
Ka ra ca na ha
Dilanjutkan mantra setra bedhati:
Ya midusa sadumiya
Ya miruda darimiya
Ya siyasa sayasiya
Ya liraya yaraliya
Ya dayuda dayudaya
Ya dayani niyadaya
Disambung mantra sepigeni:
“ingsun ambukak sadulurku sepigeni kang asal saka geni nurka, dim, kang dadi wijining sakehing urip, ingsun tamakke apa kang katon luluh geseng dadi awu saking kodratullah”
Dalang juga membaca mantra sepiangin:
“ingsun ambukak sadulurku sepiangin, kang asal saka angin ngabdul musamad, kang dadi wijining sakehing nyawa, ingsun sapokake mangetan terus sagara wetan, mangidul terus segara kidul, mangulon terus sagara kulon, mangalor terus sagara lor, saking kodratullah”.
Dilanjutkan juga mantra sepibanyu:
“ingsun ambukak sadulurku sepibanyu, kang asal saka banyu tahura, kang dadi wijining sakehing roh, ingsun siramake ing banjar pakarangane si M. Hatmakarjana adhem asrep saking kodratullah”.
Setelah itu dalang membaca mantra sepibumi:
“ingsun ambukak sadulurku sepibumi, kang asal saka bumi bahura, kang dadi wijining sakehing jisim, ingsun tamakake ing banjar pekarangane M. Hatmakarjana kuwat santosa slamet, saking kodratullah”.
Dalang kemudian melanjutkan mantra kalacakra:
Kalamusa samulaka
Kayaramu murayaka
Kadibuda dabudika
Kalibaya yabadika
Mantra terakhir yang diucapkan yaitu pesinggahan:
“hong singgah-singgah kala singgah durga suminggah,
kang cucuk wesi sirah, sing kama salah, sakehing kala
padha suminggah, aku sajatining wasesa”.
Sebagai mantra penutup dalang kemudian membaca lagi carakan balik. Setelah dalang selesai mengucapkan mantra-mantra, Batara Kala yang berada di balik layar hilang segala kekuatannya, kemudian ia ingin kembali ke tengah samodra, namun minta syarat. Dalang memberikan jawaban: “Semua sajen itu disediakan untukmu, carilah sendiri, apabila telah kamu dapatkan janganlah merasa gembira dan pergilah sekarang juga, bawalah seluruh bala tentaramu, jangan ada yang ketinggalan”. Batara Kala lalu pergi meninggalakan sang dalang. Durga mengalami kesengsaraan dan ia telah tiba di desa Maja bertemu dengan dalang Sejati. Durga minta diruwat dan dalang Sejati menyanggupinya. Akhirnya Durga teruwat, namun hanya “sifat halusnya” saja, sedangkan “sifat kasarnya” belum dapat teruwat, karena ia masih berujud raseksi. Durga kemudian kembali ke Kahyangan, namun setelah sampai di sana dipersilakan Batara Guru untuk mendiami Kahyangan Setragandamayu (Krendawahana) untuk memerintah jin, setan, brekasakan.

Batara Bayu mendapat perintah Batara Guru agar mengembalikan wujud (membadarkan) Dalang Sejati, penggender, dan nayaga. Batara Bayu berhasil mengubah wujud (merucat) ketiga tokoh tersebut sehingga pulih menjadi Batara Wisnu, Dewi Sri, dan Batara Narada. Mereka kembali ke Kahyangan. Upacara ruwatan yang diselenggarakan oleh masyarakat Jawa tidak terlepaskan dengan aspek mantra-mantra, yang kemudian dilakukan dan diucapkan oleh dalang pada waktu ia mengungkap ciri-ciri pada dada Batara Kala.

Mantra-mantra yang diucapkan oleh dalang pada waktu meruwat tersebut yaitu: carakan balik, setra bedhati, sepigeni, sepiangin, sepibanyu, sepibumi, kalacakra, dan pesinggahan. Demikian sebuah kata yang berasal dari mulut manusia dapat memperoleh kekuatan gaib, yang tampak makin kuat, bergantung pada sekticarakan balik, setra bedhati, dan kalacakra, dapat dilihat adanya sesuatu yang terbalik. Sesuatu tersebut yang dimaksud adalah susunan kata yang mengandung daya magi dan merupakan suatu keseimbangan, seperti halnya pada konsep klasifi katoris (kiri-kanan, atas-bawah, baik-buruk, dsb), yang selanjutnya dapat dikaji bahwa pola pemikiran demikian adalah suatu usaha manusia untuk selalu menjaga keseimbangan, keselarasan, dan keharmonisan dalam kehidupan manusia di dalam masyarakat. Sedangkan mantra sepigeni, sepiangin, sepibanyu, dan sepibumi tersebut dimaksudkan bahwa pembaca mantra, yaitu dalang, berusaha memanggil dzat yang terdapat di alam, yaitu api, angin, air, dan tanah yang dianggapnya sebagai saudara, selanjutnya diharapkan dapat memberikan kekuatan dan membantu segala usaha yang diidam-idamkan. Dengan demikian maka dalang tersebut berusaha pula untuk menyatukan dirinya dengan alam semesta. Pada mantra pesinggahan, dalang bermaksud untuk menghalau dan menempatkan segala durga (tindakan jahat), kama yang salah, dan si kala pada tempatnya, agar tetap “singgah” di dalam alamnya, janganlah mengganggu kehidupan manusia yang berada di alam nyata.

Sajen termasuk perlengkapan upacara ruwatan yang seharusnya ada. Sajen adalah segala sesuatu berupa makanan yang secara khusus diperuntukkan bagi makhluk supranatural (gaib) yang sering disebut makhluk halus. Sajen merupakan srana, karena dipergunakan sebagai sarana mengadakan hubungan dengan alam di luar manusia. Oleh karena alam tersebut bersifat “halus”, maka sajen tersebut hanya disantap baunya saja. G.A.J. Hazeu mengatakan bahwa menurut kepercayaan orang yang memberikan sesajian tadi bukanlah wujud lahiriah makanan yang disajikan itu yang disantap oleh roh halus leluhur, melainkan hanya baunya belaka (Hazeu 1979).

Dalam upacara ruwatan terlihat jelas adanya situasi dan kondisi sakral; seperti telah diuraikan di atas, yaitu pembacaan mantra-mantra oleh dalang, disertai sesajen dan pembakaran kemenyan, juga bunyi-bunyian gamelan, yang semuanya ini memungkinkan munculnya daya-daya magi tinggi. Pada dasarnya pelaksanaan upacara ruwatan ini adalah suatu usaha untuk mengadakan kontak (hubungan) dengan dunia supranatural (gaib), sehingga para penghuninya, yaitu roh-roh halus dapat dipanggil untuk keperluan dan tujuan tertentu. Untuk dapat menambah sarana kesakralan pada upacara ruwatan tersebut, maka masyarakat Jawa yang meyakininya mengadakan pertunjukan wayang purwa, yang diperkirakan timbul pada zaman neolitikum dari praktek-praktek pemujaan roh nenek moyang (Ulbrich 1970). Wayang adalah sarana ideal untuk mengadakan upacara ruwatan ini, karena dengan wayang, maksudnya adalah wayang di zaman paling kuna (wayang purwa), dapat menyingkirkan mara bahaya, seperti yang dikemukakan oleh G.A.J. Hazeu bahwa dengan wayang dimaksudkan dapat menolak bala atau sesuatu yang buruk, misalnya menolak mala petaka yang akan tiba, atau kesengsaraan yang diderita oleh seseorang karena perbuatan-perbuatan yang tersimpul dalam tamsil, seperti orang yang memecahkan gandhik, orang merobohkan dandang penanak nasi (Hazeu 1979).

Dalam upacara ruwatan, kecuali unsur sesajen, dalang pun juga sangat menentukan, dalam arti dialah sesungguhnya yang berfungsi sebagai penghubung antara dunia nyata (provan) dengan dunia gaib (supranatural). Pada kelanjutannya masyarakat mempunyai keyakinan bahwa yang ada di dunia nyata mendapatkan pengaruh dari dunia gaib, demikian pula mengenai alam semesta (jagad raya), merupakan susunan yang teratur rapi dan bergerak sesuai dengan rotasi dan revolusinya. Apabila salah satu unsur jagad raya menyimpang dari ketentuan tersebut, maka jagad raya akan mengalami kegoncangan, oleh karena itu unsur yang satu dengan yang lainnya di dalam jagad raya merupakan sistem yang tertata rapi, serasi, dan harmonis.
Pandangan yang menganggap bahwa alam semesta yang terdiri dari jagad gede dan jagad cilik adalah satu kesatuan yang serasi dan harmonis, tidak lepas satu dengan yang lainnya dan selalu berhubungan, merupakan konsep kosmis. Masyarakat Jawa beranggapan bahwa peristiwa yang terjadi di jagad cilik, karena mendapat pengaruh dari jagad gede, atau sebaliknya yang mengakibatkan kegoncangan. Konsep ini disebut magis. Dalam masyarakat Jawa terlihat dengan jelas pula mengenai tatanan kehidupan yang teratur rapi, kejelasan mengenai fungsi dan kedudukan manusia dalam hubungannya dengan manusia lain, alam semesta, dan Tuhan. Semuanya ini berkaitan pula dengan pandangan bahwa alam semesta pada prinsipnya tertata rapi, serasi, dan harmonis, seiring dan selaras dengan kehidupan manusia dalam masyarakat.

Konsep yang ketiga ini disebut klasifi katoris. Ketiga konsep tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling berpautan. Keteraturan manusiawi dan kosmos adalah terkoordinasi, hal ini bagian dari suatu keseluruhan dan bila bagian-bagian itu berusaha keras ke arah kesatuan dan keseimbangan, hidup akan menjadi nikmat dan tentram (Mulder 1984).

Lihat sumbernya di BUDAYA NUSANTARA.


Artikel Terkait: