Sastrawan.

Profil Sastrawan 1900-1949

SN Ratmana dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, 6 Maret 1936. Tulisan-tulisannya dimuat di Sastra, Horison, Kompas, dan lain-lain. Karya-karyanya yang sudah dibukukan: Sungai, Suara, dan Luka (1981), Asap itu Masih Mengepul (1977). Karyanya dimuat pula dalam antologi cerpen pemenang Sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldomroep, Dari Jodoh sampai Supiyah (1975).


Sori Siregar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 12 November 1939. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat pada 1970-71, dan pernah bekerja antara lain di BBC London, Radio Suara Malaysia, Matra, Forum Keadilan. Karya-karyanya: Dosa atas Manusia (1967), Pemburu dan Harimau (1972), Senja (1979), Wanita Itu adalah Ibu (1979; novel pemenang hadiah perangsang kreasi Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1978), Di Atara Seribu Warna (1980), Susan (1981), Awal Musim Gugur (1981), Reuni (1982), Telepon (1982; pemenang hadiah harapan Sayembara Mengarang Roman DKJ 1979); Penjara (1992), Titik Temu (1996). Di samping itu ia banyak menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia, baik novel, cerita pendek, maupun drama.

Subagio Sastrowardoyo dilahirkan di Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924, dan meninggal di Jakarta, 18 Juli 1995. Peraih M.A. dari Departement of Comparative Literature, Yale University, Amerika Serikat ini pernah mengajar di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta, Fakultas Sastra UGM, SESKOAD Bandung, Salisbury Teachers College, dan Flinders University, Australia. Cerpennya, “Kejantanan di Sumbing” dan puisinya, “Dan Kematian Makin Akrab”, masing-masing meraih penghargaan majalah Kisah dan Horison. Kumpulan puisinya, Daerah Perbatasan membawanya menerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1971), sementara Sastra Hindia Belanda dan Kita mendapat Hadiah Sastra dari Dewan Kesenian Jakarta, dan bukunya yang lain, Simfoni Dua, mengantarkannya ke Kerajaan Thailand, menerima Anugerah SEA Write Award. Karya-karyanya yang berupa puisi, esai, dan kritik, diterbitkan dalam: Simphoni (1957), Kejantanan di Sumbing (1965), Daerah Perbatasan (1970), Bakat Alam dan Intelektualisme (1972), Keroncong Motinggo (1975), Buku Harian (1979), Sosok Pribadi dalam Sajak (1980), Hari dan Hara (1979), Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983), Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan (1992), Dan Kematian Makin Akrab (1995).

Sutan Takdir Alisjahbana dilahirkan di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908, dan meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994. Penerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Indonesia dan Universitas Sains Penang (Malaysia) ini pernah menjadi redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka. Ia pendiri serta pengelola majalah Pujangga Baru. Karya-karya guru besar dan anggota berbagai organisasi keilmuan di dalam dan luar negeri ini antara lain: Tak Putus Dirundung Malang (1929), Dian yang Tak Kunjung Padam (1932), Tebaran Mega (1935), Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia (1936), Layar Terkembang (1936), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940), Puisi Lama (1941), Puisi Baru (1946), The Indonesian Language and Literature (1962), Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (1969), Grotta Azzura (1970-71), The Failure of Modern Linguistics (1976), Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (1977), Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia sebagai Bahasa Modern (1977), Lagu Pemacu Ombak (1978), Kalah dan Menang (1978).

Sutardji Calzoum Bachri dilahirkan di Rengat, Riau, 24 Juni 1941. Pada 1974-75 mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, dan sejak 1979 hingga sekarang menjabat redaktur majalah sastra Horison. Karya-karyanya: O (1973), Amuk (1977; mendapat Hadiah Puisi DKJ 1976-77), Kapak (1979), O Amuk Kapak (1981). Sejumlah puisinya diterjemahkan Harry Aveling dan dimuat dalam antologi berbahasa Inggris: Arjuna in Meditation (1976; Calcutta). Pada 1979 ia menerima anugerah SEA Write Award dan sembilan tahun kemudian dilimpahi Penghargaan Sastra Chairil Anwar. Sebelumnya, peraih penghargaan tertinggi dalam bidang kesusastraan di Indonesia itu adalah Mochtar Lubis.

Taufiq Ismail dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935. Penerima American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57), dan lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, Bogor (1963). Karya-karya penyair penerima Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1970 yang juga salah seorang pendiri majalah sastra Horison (1966) dan Dewan Kesenian Jakarta (1968) ini, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, Jepang, Jerman, dan Perancis. Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.), Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970), Tirani (1966), Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971), Buku Tamu Museum Perjuangan (1972), Sajak Ladang Jagung (1973), Puisi-puisi Langit (1990), Tirani dan Benteng (1993), dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999). Bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad, penyair yang tinggi sekali perhatiannya pada upaya mengantarkan sastra ke sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi itu menerjemahkan karya penting Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam. Sedangkan bersama D.S. Moeljanto, salah seorang seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan ini menyunting Prahara Budaya (1994).

Titie Said lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 11 Juli 1935. Lulus sarjana muda Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1959). Pernah menjadi redaktur majalah Kartini dan memimpin majalah Famili. Novel-novelnya yang telah diterbitkan antara lain: Jangan Ambil Nyawaku (1977), Reinkarnasi, Fatima, Ke Ujung Dunia. Kumpulan cerita pendeknya: Perjuangan dan Hati Perempuan (1962).

Titis Basino dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, 17 Januari 1939. Karya-karya novelis yang cukup produktif ini antara lain: Pelabuhan Hati (1978), Dataran Terjal, Di Bumi Kita Bertemu, di Langit Kita Bersua (1983), Bukan Rumahku (1986), Dari Lembah ke Coolibah (1997), Welas Asih Merengkuh Tajali (1997), Menyucikan Perselingkuhan (1998), Tersenyum Pun Tidak Untukku Lagi (1998), Rumah K. Seribu (1998), Aku Kendalikan Air, Api, Angin, dan Tanah (1998), Mawar Hitam Milik Laras (1999), Garis Lurus, Garis Lengkung (2000).

Toeti Heraty Noerhadi dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 27 November 1933. Sarjana Filsafat dari Rijk Universiteit Leiden ini meraih doktor filsafatnya di Univeristas Indonesia. Karya-karyanya: Sajak-sajak 33 (1973), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979; [ed.]), Mimpi dan Pretensi (1982), Aku dan Budaya (1984), Manifestasi Puisi Indonesia-Belanda (1986; dengan Teeuw [ed.]), Wanita Multidimensional (1990), Nostalgi = Transendensi (1995). Puisi-puisinya dimuat pula dalam Antologi Puisi Indonesia 1997 dan Sembilan Kilap Cermin (2000).

Toha Mochtar dilahirkan di Kediri, Jawa Timur, 17 September 1926, dan meninggal di Jakarta, 17 Mei 1992. Pengarang yang di tahun 1971 bersama Julius R. Siyaranamual dan Asmara Nababan mendirikan majalah Kawanku ini, telah melahirkan sejumlah novel: Pulang (1958; mendapat Hadiah Sastra BMKN 1957-58), Daerah Tak Bertuan (1963; meraih Hadiah Sastra Yamin 1964), Kabut Rendah (1968), Bukan Karena Kau (1968).

Toto Sudarto Bachtiar dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 12 Oktober 1929. Penyair yang dikenal dengan dua kumpulan puisinya: Suara (1956; memenangkan Hadiah Sastra BMKN 1957) dan Etsa (1958) ini, juga dikenal sebagai penerjemah yang produktif. Karya-karya terjemahannya antara lain: Pelacur (1954; Jean Paul Sartre), Sulaiman yang Agung (1958; Harold Lamb), Bunglon (1965; Anton Chekov, et.al.), Bayangan Memudar (1975; Breton de Nijs, diterjemahkan bersama Sugiarta Sriwibawa), Pertempuran Penghabisan (1976; Ernest Hemingway), Sanyasi (1979; Rabindranath Tagore).

Umar Kayam dilahirkan di Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932. Meraih M.A. di Universitas New York (1963), dan Ph.D. dua tahun kemudian dari Universitas Cornell, Amerika Serikat. Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada hingga pensiunnya di tahun 1997 ini adalah anggota penyantun/penasehat majalah sastra Horison sebelum mengundurkan pada 1 September 1993. Pada 1987, ia meraih SEA Write Award. Karya-karyanya: Seribu Kunang-kunang di Manhattan (1972), Totok dan Toni (1975), Sri Sumarah dan Bawuk (1975), Seni, Tradisi, Masyarakat (1981), Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Bangsa (1985), Para Priyayi (1992; mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K 1995), Mangan Ora Mangan Kumpul (1990), Sugih Tanpa Banda (1994), Jalan Menikung (1999). Cerpen-cerpen-cerpennya diterjemahkan Harry Aveling dan diterbitkan dalam Sri Sumarah and Other Stories (1976) dan Armageddon (1976).

Umbu Landu Paranggi dilahirkan di Sumba, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Bersama Ragil Suwarna Pagolapati, Teguh Ranusastra Asmara, Iman Budhi Santosa, mendirikan Persada Studi Klub, 5 Maret 1969, yang di kemudian hari melahirkan sejumlah penyair. Karya-karya penyair yang terakhir bekerja sebagai redaktur Bali Post ini adalah: Melodia, Maramba Ruba, Sarang.

Upita Agustine dilahirkan di Pagaruyung, Sumatera Barat, 31 Agustus 1947. Puisi-pusinya dipublikasikan antara lain di Horison. Karya-karyanya: Bianglala (1973), Dua Warna (1975; bersama Hamid Jabbar), Terlupa dari Mimpi (1980), Sunting (1995; bersama Yvonne de Fretes), selain terdapat pula dalam antologi Laut Biru Langit Biru (1977; Ajip Rosidi [ed.]), Tonggak 3 (1987; Linus Suryadi [ed.]), Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (Korrie Layun Rampan [ed.]).

Utuy Tatang Sontani dilahirkan di Cianjur, Jawa Barat, 31 Mei 1920, dan meninggal di Moskow, Uni Soviet, 17 September 1979. Karya-karya sastrawan anggota pimpinan LEKRA (1959-65) yang menulis novel dan banyak karya sastra drama ini adalah: Suling (1948), Bunga Rumah Makan (1984), Tambera (1949), Orang-orang Sial (1951), Awal dan Mira (1952; mendapat hadiah Sastra Nasional BMKN 1953), Manusia Iseng (1953), Sangkuriang Dayang Sumbi (1953), Sayang Ada Orang Lain (1954), Di Langit Ada Bintang (1955), Selamat Jalan Anak Kufur (1956), Di Muka Kaca (1957), Saat yang Genting (1958; mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957-58), Manusia Kota (1961), Segumpal Daging Bernyawa (1961), Tak Pernah Menjadi Tua (1963), Si Sapar (1964), Si Kampreng (1964), dan terjemahan Selusin Dongeng (1949; Jean de la Fountain).

Wisran Hadi dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, Juli 1945. Tahun 1977-78 mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat. Karya-karyanya: Simalakama (1975), Anggun Nan Tongga (1978), Putri Bungsu (1978), Tamu (1996), Imam (1977). Sejumlah naskah dramanya berikut ini memenangkan Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta: Gaung (1975; hadiah ketiga), Ring (1976; hadiah harapan), Cindur Mata (1977; hadiah harapan); Perguruan (1978; hadiah kedua), Malin Kundang (1985; hadiah harapan), Penyeberangan (1985; hadiah ketiga), Senandung Semenanjung (1986; hadiah perangsang), Pewaris (1981). Pada 1991 Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya Penghargaan Penulis Sastra.

Dikutip dari jadul.blogspot.com



Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih Anda telah menyimak Artikel ini.
Artikel ini kami kutip dari berbagai sumber,sebaiknya Anda simak juga sumbernya melalui link yang disediakan.
Apabila berkenan silahkan berikan komentar.