Pulau Nias

Tradisi Dan Potensi Wisata Pulau Nias
1. Tradisi Lompat Batu di Pulau Nias

Lompat batu (hombo batu) merupakan tradisi yang sangat populer pada masyarakat Nias di Kabupaten Nias Selatan. Tradisi ini telah dilakukan sejak lama dan diwariskan turun temurun oleh masyarakat di Desa Bawo Mataluo (Bukit Matahari). Tradisi lompat batu sudah dilakukan sejak jaman para leluhur ,di mana pada jaman dahulu mereka sering berperang antar suku sehingga mereka melatih diri mereka agar kuat dan mampu menembus benteng lawan yang konon cukup tinggi untuk dilompati. Seiring berkembangnya jaman, tradisi ini turut berubah fungsinya. Karena jaman sekarang mereka sudah tidak berperang lagi maka tradisi lompat batu digunakan bukan untuk perang lagi melainkan untuk ritual dan juga sebagai simbol budaya orang Nias. Tradisi lompat batu adalah ritus budaya untuk menentukan apakah seorang pemuda di Desa Bawo Mataluo dapat diakui sebagai pemuda yang telah dewasa atau belum. Para pemuda itu akan diakui sebagai lelaki pemberani dan memenuhi syarat untuk menikah apabila dapat melompati sebuah tumpukan batu yang dibuat sedemikian rupa yang tingginya lebih dari dua meter. Ada upacara ritual khusus sebelum para pemuda melompatinya. Sambil mengenakan pakaian adat, mereka berlari dengan menginjak batu penopang kecil terlebih dahulu untuk dapat melewati bangunan batu yang tinggi tersebut. Sampai sekarang tradisi ini tetap eksis di tengah budaya moderen yang semakin menghimpit.


2. Tari Maena, Simbol Sukacita Suku Nias

Tarian ini menjadi simbol untuk memuji mempelai lelaki beserta keluarganya. Sesekali, Tari Maena menjadi tari penyambutan tamu kehormatan yang berkunjung ke pulau Nias. Dalam sebuah pertunjukan, tari Maena ditarikan oleh beberapa pasang penari lelaki dan wanita.  Dari awal hingga pertunjukan usai, gerakan tari Maena didominasi dengan perpaduan gerak tangan dan kaki. Gerakannya terlihat sederhana namun tetap penuh semangat dan dinamis.
Kesederhanaan gerak itulah yang membuat siapa saja termasuk anda dapat menjadi penari tari Maena. Tidak ada batasan berapa jumlah penari Maena. Semakin banyak peserta tari Maena, gerakan tari Maena semakin terlihat semangat.Daya tarik utama dari tari Maena yakni lantunan beberapa rangkaian pantun Maena. Pantun Maena disampaikan oleh satu atau dua orang pemain yang dalam bahasa Nias disebut Sanutuno Maena. Tidak semua orang dapat menjadi Sanutuno Maena. Seorang Sanutuno Maena harus fasih berbahasa Nias.
Biasanya, yang menjadi Sanutuo Maena yakni tetua adat atau sesepuh suku Nias. Isi pantun disesuaikan dengan waktu pertunjukan tari Maena dipertunjukkan. Ketika tari Maena diselenggarakan pada pesta pernikahan, pantun biasanya berisi kegembiraan dan doa untuk kedua mempelai. Namun ketika tari Maena dijadikan tari penymbuta tamu kehormatan, pantun Maena menggambarkan rasa hormat warga Nias kepada tamu. Pantun Maena biasanya disampaikan pada awal pertunjukan.
Setelah Sanutuo Maena menyampaikan beberapa bait pantun, pertunjukan tari Maena dilanjutkan dengan nyanyian berbahasa Nias. Dengan lantang, para penari Maena menyanyikan beberapa syair lagu yang isinya disesuaikan dengan tema acara. Mulai dari awal penyampaian, lirik lagu dalam pertunjukan tari Maena tetaplah sama dan disampaikan secara berulang. Syair lagu itulah yang mengiringi gerakan para penari Maena hingga pertunjukan tari Maena usai.

3. Tari Perang
Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut “Sigaru Tora`a” yang terletak di sebuah tempat yang bernama “Tetehöli Ana’a”. Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana’a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.

4. Tari Moyo

menandakan betapa indahnya sebuah persatuan dalam sebuah perdamaian seperti gerakan yang lemah gemulai, menunjukkan bahwa dalam keteduhan kami bisa mencapai cita-cita kami bagaikan elang mengarungi angkasa raya






5. Rumah adat dan ukiran-ukiran batu tua dapat ditemukan di sekitar pulau bagian tengah. Beberapa dari rumah adat ini bahkan telah berusia 3.000 tahun.

desa di Nias dan melihat rumah dengan arsitektur unik yang telah dibangun sejak berabad-abad yang tahan gempa bumi. Rumah-rumahnya dibangun dengan pilar-pilar yang bertumpu pada bongkahan-bongkahan batu. Pilar-pilar ini dibangun dengan tumpukan-tumpukan batu yang miring yang menciptakan struktur 3 dimensi yang kuat, desain rumah seperti kapal kayu ini terinspirasi oleh kapal-kapal Belanda yang membawa rempah-rempah. Melihat ukiran kayu yang rumit setiap rumah penduduk. Desa Hilisimaetano di Selatan Nias memiliki lebih dari 100 rumah tradisional dengan ukiran khas Nias.
Di dataran tinggi utama desa di sekitar Gomo memiliki contoh ukiran batu terbaik. Daerah ini meski sulit diakses, harus melewati hutan atau menumpang kendaraan orang setempat namun semua itu akan terbayar dengan pengalaman petualangan yang takan terlupakan di Pulau Nias dan menjadi kenangan yang bersifat pribadi dan unik tak terlupakan.
Pusaka budaya Nias yang kaya terdiri dari kombinasi luas berbagai saujana (cultural landscapes) dengan bukti keberadaan situs-situs megalitik, desa-desa tradisional, arsitektur setempat yang menakjubkan dan keanekaragaman kerajinan tangan dan adat istiadat.

6. Musium Pusaka Nias

(Patung-patung leluhur koleksi musium Pusaka Nias)
Di kabupaten Nias, Gunung sitoli terdapat museum yang memiliki harta koleksi yang beragam dan berharga.  Museum ini berdiri berkat kerja keras Pastor Johannes M. Hammerle, warga Negara Jerman yang sudah menetap di Nias 36 tahun dan menjadi Direktur Museum untuk mengoleksi benda-benda peninggalan budaya Nias. Jumlah koleksinya mencapai 6.500-an. Koleksinya terdiri dari artefak alat-alat rumah tangga, patung-patung megalith dari kayu dan batu, perhiasan, senjata tradisional, mata uang, pakaian adat, simbol-simbol kebangsawanan sampai rumah adat asli Nias yang disebut Omo Hada. Fasilitas-fasilitasnya adalah perpustakaan umum, meeting room, kantin, kebun binatang mini, sampai area rekreasi pantai.

7. Batu-batu megalit di GOMO yang terlantar

Arca-arca batu berusia ratusan tahun bisa dijumpai di halaman-halaman rumah penduduk. Di Gomo setidaknya ditemukan 14 titik yang merupakan situs batu megalit. Tapi yang sudah dibuka untuk umum baru empat situs, semua yang telah dipugar pemerintah. Semua situs itu terletak di ladang dan hutan penduduk setempat di daerah Idanotai,  Lahusa Satua dan Tundu Baho.  Untuk menuju ke sana hanya bisa di tempuh dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua. Itu pun harus menyeberangi arus sungai  dan jalan setapak di pegunungan yang kemiringan konturnya mencapai 45 derajat, sangat melelahkan memang.
Pengunjung bisa ber-snorkeling dengan nyaman dari pinggir dermaga yang ada dimuseum ini. Pusaka ini menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, walaupun selama ini pariwisata budaya hanya menjadi kegiatan pinggiran dalam hal kontribusinya terhadap ekonomi setempat.

Potensi Wisata Bahari
Pulau nias memiliki pantai, tempat berselancar ke dua terbaik di dunia setelah Hawaii karena memiliki ombak besar yang menakjubkan. Peselancar Australia yang pertama kali menemukan obak yang mempesona bagi banyak peselancar di seluruh dunia ini. Saat ini Nias telah menjadi tuan rumah Indonesia Open Surfing Championship di pantai Lagundri.
Pariwisata selancar telah memainkan peran yang bermanfaat  di daerah pantai selatan dekat teluk dalam karena reputasinya sebagai salah satu dari sepuluh ombak terbaik di dunia, The best Ten Surf Point in The World. Ada dua pantai yang sangat terkenal di dalam negeri maupun di manca Negara yaitu pantai Lagundri dan Sorake. Jarak antara pantai Lagundri ke Sorake hanya 2 Kilometer. Kedua pantai ini terletak di desa Botohilitano sekitar 13 Km dari Teluk Dalam ibukota Kabupaten Nias Selatan,Sumatera Utara, telah dikenal sebagai tempat berselancar sejak 30 tahun silam.” Ombak besar dengan pohon-pohon kelapa itulah yang menarik peselancar datang”. Di pantai sorake inilah  salah satu surganya para pemain selancar, sehingga sering diadakan kejuaraan surfing bertaraf internasional. Karena kedua pantai ini, maka ditemukan sangat banyak tempat-tempat surfing di bagian pulau Nias yang lain seperti Asu Island, Bawa Island, Afulu Beach dan Pulau-pulau Telo. Nama dan Karakter Surf Point di Nias :
1. Asu
Dengan jajaran nyiur sebagai latar belakang, ombak ini di ujung pulau Asu, ujung utara pulau Hinako ( Hinakos Island) panjang dan hampir berbentuk left barel, ombak disini mampu membungkus dengan ukuran hingga mencapai 5 meter. Hanya untuk peselancar ahli.
2. Bawa
Ombak right-hand reef peak ini bisa mencapai 1.5 hingga 5 meter. Banyak dijadikan sebagai obyek foto dengan hasil yang terkadang menggambarkan ombak yang asyik untuk diajak bermain.

3. Indicators (Lagundri & Sorake beach area)
Jalan sedikit kearah kanan dari The point akan bertemu dengan hollow right-hand reef yang sering kali melawan arah angin. Pada tides yang rendah, ini merupakan spot berbahaya.
4. The Point (Lagundri & Sorake beach area)
Ombak right hander yang sering masuk majalahsurfing ini sudah dikenal banyak orang sejak tahun 70-an. Gerakan ombaknya sering kali muncul melebar hingga ketepian dengan ketinggian 1 hingga 4 meter lebih.


Pantai Di Pulau Nias :
1. The Machine (Lagundri & Sorake beach area)

Tepat disebelah kanan teluk, terdapat spot yang menyajikan mesin barel untuk left-hand yang sempurna dengan gulungan ombak besar dari arah selatan dan lebih baik lagi ketika bulan purnama.
2. Telo & Batus
Kepulauan batu dikenal oleh para peselancar dengan sebutan the Telo’s yang disesuaikan dengan nama administrative daerah tersebut. Ombak di spot ini terkenal menantang dan berubah-ubah. Dari kekuatannya mampu menghempas, kekuatannya tetap besar namun sedikit jinak. Spot lain juga bisa tidak kalah bagusnya, berada disebuah pulau kecil yang ditandai dengan kehadiran bebatuan besar, pepohonan besar dan akan bertemu dengan right-hander berkualitas.
  1. Hilisataro (Hilisataro Village)
spot ini dari Lagundri dengan menyewa guide local dan bertemu dengan ombak right-hand reef yang akan tetap dalam kondisi menantang meskipun tanpa ada angin.
  1. Afulu( North Nias)
Di utara Nias atau satu jam perjalanan dari Asu, maka akan menemukan ombak solid bagaikan dipahat. Meskipun biasanya ombaknya kecil dan sedikit ringan dari tetangganya namun ombak ini tetap memberikan tantangan dan hanya cocok bagi mereka peselancar tingkat lanjut.
Keunikan Pulau Nias
ada satu ciri khas dari Pulau Nias, apalagi kalau bukan sejarahnya menurut penelitian yang dilakukan oleh para peneliti. Pulau ini sudah dihuni oleh manusia sejak 3.000 tahun lalu. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya beberapa peninggalan sejarah yang masih dapat dijumpai hingga sekarang. Peninggalan-peninggalan dapat kita lihat di Bukit Tolobahu di sisi sebuah gereja di atas Desa Idano Tae, Gomo, sekitar 60 km dari Gunungsitoli. Di sini terdapat ratusan batuan bermacam bentuk seperti patung, altar dan benda lain yang diperkirakan telah berusia di atas 3.000 tahun.
Desa ini konon diyakini sebagai tanah leluhur nenek moyang pertama orang Nias. Sehingga tak heran, jika penduduk sekitar mengkeramatkan area kawasan ini.Di areal seluas 3.000 meter persegi ini ada meja batu yang semuanya berjumlah 62 unit. Tingginya berbeda-beda, ada yang 80 cm, 70 cm, 50 cm sampai 20 cm dengan ketebalan 10 sampai 20 cm. Benda lainnya adalah patung dengan hiasan kepala naga sejumlah 42 unit.  Selain itu masih ada peti mayat, lesung pencucian kaki, mimbar, tiang pasungan, batu pancung, pilar gapura, kursi raja, kursi tamu, bangku pag raja, dan yang kecil untuk para abdi dan rakyat jelata. Nias juga punya rumah adat. Lokasi yang paling terjaga terdapat di Desa Bawomataluo, Orahili dan Hilisimaetano, Kecamatan Teluk Dalam. Di desa-desa tradisional inilah terdapat hombo batu (susunan batu berbentuk kerucut setinggi dua meter) yang dikenal sebagai tempat latihan para pemuda yang akan berperang pada zaman dahulu. Pemuda yang akan berperang lulus seleksi bila mampu melompati batu ini. Logikanya sederhana, batu itu sebagai uji coba melewati benteng desa lawan yang umumnya terdiri dari batu setinggi dua meter juga.

Makanan Khas
  • Gowi Nihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk)
  • Harinake (daging Babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil)
  • Godo-godo (ubi / singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang di taburi dengan kelapa yang sudah di parut)
  • köfö-köfö(daging ikan yang dihancurkan, dibentuk bulat dan dijemur/dikeringkan/diasap)
  • Ni’owuru (daging babi yang sengaja diasinkan agar bisa bertahan lama)
Minuman
  • Tuo Nifarö (minuman yang berasal dari air sadapan pohon nira (dalam bahasa Nias “Pohon Nira” = “töla nakhe”) yang telah diolah dengan cara penyulingan)

Selengkapnya simak farika.blog

Artikel Terkait:

12 komentar:

  1. makasih banyaak ya gan buat infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. slmt pagi..trima kasih kunjungannya... salam...

      Hapus
  2. Wah informasinya sangat berguna sekali nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. trima ksih gan atas komentnya...

      Hapus
  3. Pengin pergi kesono kapan yah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga niatnya terlaksana gan...trimakasih kunjungannya ..salam..

      Hapus
  4. nice blog you got. thanks a lot.

    BalasHapus
  5. awesome posts found in your blog man...

    BalasHapus

Terima kasih Anda telah menyimak Artikel ini.
Artikel ini kami kutip dari berbagai sumber,sebaiknya Anda simak juga sumbernya melalui link yang disediakan.
Apabila berkenan silahkan berikan komentar.